Palembang, Katasulsel.com — Dua anak diharapkan menjadi ASN.

Uang Rp1,03 miliar kemudian diserahkan.

Tetapi pada akhirnya, kedua anak itu tidak lolos seleksi.

Uang yang sudah diberikan pun disebut tak kunjung kembali.

Orang tua akhirnya melapor ke polisi.

Inilah perkara yang kini tengah diselidiki Polrestabes Palembang, Sumatera Selatan.

Dilansir dari Banjarmasin.tribunnews.com, seorang pria berinisial BN (47) bersama istrinya melaporkan seorang oknum guru berinisial DM atas dugaan penipuan dan penggelapan.

Nilainya fantastis untuk ukuran sebuah keluarga: Rp1.030.000.000.

Menurut pengakuan BN, uang tersebut diberikan karena DM diduga menjanjikan dua anaknya bisa lolos menjadi ASN.

Satu anak disebut diarahkan untuk masuk Kementerian Hukum dan HAM dengan uang yang diminta sebesar Rp580 juta.

Anak lainnya disebut dijanjikan masuk Kejaksaan dengan nilai Rp450 juta.

Jika dijumlahkan, tepat Rp1,03 miliar.

Uang itu tidak langsung diserahkan sekaligus.

BN mengaku membayarnya secara bertahap setelah terus diyakinkan.

Ada satu hal yang membuatnya berani menyerahkan uang sebanyak itu.

Menurut BN, DM berjanji uang akan dikembalikan apabila kedua anaknya ternyata tidak lolos seleksi.

Janji tersebut kemudian menjadi pegangan keluarga.

Seleksi pun diikuti.

Namun kenyataan berkata lain.

Kedua anak BN tidak lolos.

Saat itulah persoalan mulai berubah.

BN meminta uangnya kembali.

Tetapi menurut pengakuannya, uang Rp1,03 miliar tersebut tidak kunjung dikembalikan.

Janji pengembalian disebut terus datang bersama berbagai alasan.

BN bahkan mengaku pernah menerima video yang dikirim DM untuk menunjukkan saldo rekening Bank BCA.

Namun BN menduga isi video tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Meski kecewa, BN ternyata tidak langsung melapor.

Ia masih menunggu itikad baik.

Mediasi bahkan sempat dilakukan.

Tetapi dari proses itulah muncul cerita lain.

BN mengaku mengetahui adanya orang lain yang juga pernah berurusan dengan DM.

Mereka disebut pernah mendapat tawaran bantuan untuk bisa masuk ke salah satu SMA negeri di Palembang.

Namun mereka juga disebut tidak berhasil lolos.

Akhirnya, setelah merasa persoalan tidak kunjung selesai dan uang belum dikembalikan, BN memilih membawa perkara tersebut ke polisi.

Laporan diterima Polrestabes Palembang.

Pamapta Piket SPKT Polrestabes Palembang, Ipda Andi Ardiyansyah, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Laporan sudah diterima dan akan segera ditindaklanjuti oleh petugas Satreskrim Polrestabes Palembang Unit Pidsus untuk melakukan penyelidikan terkait laporan korban,” ujarnya.

Artinya, perkara ini masih berada pada tahap penyelidikan.

Polisi akan mengurai cerita dari awal.

Mulai dari perkenalan korban dengan terlapor, komunikasi yang terjadi, penyerahan uang, janji yang diberikan, hingga aliran dana sebesar Rp1,03 miliar tersebut.

Polisi juga akan mendalami apakah ada korban lain sebagaimana yang disebutkan dalam laporan.

Sebab angka Rp1,03 miliar bukan satu-satunya hal yang membuat perkara ini menarik perhatian.

Ada dua anak yang awalnya diharapkan mendapat pekerjaan.

Ada orang tua yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar.

Ada janji bahwa uang akan dikembalikan jika gagal.

Dan pada akhirnya, dua anak tersebut disebut tidak lolos seleksi.

Kini semuanya harus dibuktikan.

Apakah benar terjadi penipuan dan penggelapan?

Apakah uang tersebut memang diserahkan dengan janji kelulusan ASN?

Apakah benar ada korban lain?

Jawabannya masih menunggu proses hukum.

Kasus ini juga menjadi peringatan keras bagi masyarakat yang sedang mengejar pekerjaan, khususnya ASN.

Jangan mudah percaya pada orang yang mengaku mampu menjamin kelulusan.

Jangan menyerahkan uang dalam jumlah besar hanya karena dijanjikan bisa melewati proses seleksi.

Sebab seleksi ASN memiliki mekanisme resmi dan tahapan yang harus dilalui peserta.

Bagi keluarga BN, perjuangan kini berpindah tempat.

Bukan lagi di ruang seleksi ASN.

Melainkan di hadapan aparat penegak hukum.

Rp1,03 miliar sudah diserahkan. Dua anak tidak lolos. Kini polisi yang akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.