Sidrap, Katasulsel.com — Angka kecil di atas kertas kadang menyimpan cerita besar.
Muhammad Yunus, petani dari Desa Padangloang Alau, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), membuktikannya lewat hasil panen di tengah kemarau yang masih menjadi tantangan bagi petani.
Dari lahan hanya 25 are, Yunus berhasil mengumpulkan 2.520 kilogram atau 2,52 ton gabah.
Jika dikonversi ke luasan satu hektare, hasil tersebut setara dengan produktivitas sekitar 10,08 ton gabah per hektare.
Angka itulah yang membuat panen Yunus menarik.
Sebab luas lahannya hanya seperempat hektare.
Tetapi hasil yang keluar dari lahan tersebut, jika dihitung dalam standar satu hektare, mencapai lebih dari 10 ton.
Yunus merupakan anggota Kelompok Tani Masumpuloloe.
Di tengah kemarau yang berkepanjangan, ia tetap memilih mengelola sawahnya dengan serius.
Tidak mudah.
Air menjadi salah satu persoalan utama yang harus dihadapi petani ketika musim kering berlangsung lebih panjang.
Namun sawah 25 are yang dikelolanya tetap menghasilkan.
Sebanyak 20 karung gabah berhasil dibawa dari lahan tersebut.
Totalnya mencapai 2,52 ton.
Dengan perhitungan sederhana, produktivitasnya setara 10,08 ton per hektare.
Angka ini tentu merupakan hasil konversi berdasarkan luas lahan yang dipanen, bukan berarti Yunus benar-benar memanen satu hektare lahan.
Tetapi konversi tersebut memberikan gambaran mengenai tingkat produktivitas lahan yang dikelolanya.
Ada pula cerita ekonomi di balik panen tersebut.
Dengan harga gabah sekitar Rp7.700 per kilogram, 2.520 kilogram gabah memiliki nilai produksi kotor sekitar Rp19,4 juta.
Angka tersebut belum dikurangi biaya produksi seperti benih, pupuk, tenaga kerja, pengolahan lahan dan kebutuhan lainnya.
Namun bagi seorang petani, melihat hasil panen terkumpul setelah melewati masa tanam tentu menghadirkan kepuasan tersendiri.
Apalagi musim kali ini tidak mudah.
Kemarau menguji banyak hal.
Ketersediaan air.
Ketahanan tanaman.
Kedisiplinan petani.
Dan tentu saja keberanian untuk tetap menanam ketika cuaca belum sepenuhnya bersahabat.
Yunus memilih tetap berjalan.
Hasilnya kemudian berbicara melalui angka.
25 are menghasilkan 2,52 ton.
Atau jika dikonversi, sekitar 10,08 ton per hektare.
Di balik angka itu ada kerja yang berlangsung berbulan-bulan.
Ada sawah yang harus dipantau.
Ada tanaman yang harus dijaga.
Dan ada harapan yang baru benar-benar terjawab ketika gabah mulai dipanen.
Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu daerah pertanian penting di Sulawesi Selatan.
Cerita seperti yang dialami Muhammad Yunus menjadi bagian kecil dari wajah pertanian tersebut.
Bahwa di tengah perubahan musim dan berbagai tantangan, petani masih terus mencari cara agar lahan tetap produktif.
Bagi Yunus, mungkin yang terpenting bukan bagaimana angkanya terlihat besar.
Yang lebih penting adalah sawahnya berhasil memberikan hasil.
Dua puluh karung gabah.
2,52 ton produksi.
Dan produktivitas setara 10,08 ton per hektare.
Kemarau boleh datang panjang.
Tetapi dari 25 are sawah di Padangloang Alau, Yunus menunjukkan bahwa harapan tidak selalu harus menunggu musim yang sempurna.
Kadang, harapan justru tumbuh dari lahan kecil yang dikelola dengan sungguh-sungguh. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
