Ibu tidak menyimpan umur
di kue ulang tahun.

Ia menyimpannya
di panci yang kian hitam,
di gelas retak
yang tetap dipakai,
di jarum jam dapur
yang selalu terlambat
menyebut lelah.

Di lemari,
ada foto lama,
obat gosok,
dan baju lebaran
yang lebih sering dilipat
daripada dikenakan.

Jika ditanya usianya,
ibu hanya tersenyum.
Senyum itu kecil,
tetapi cukup luas
untuk menyembunyikan
antrean minyak, harga cabai,
dan tagihan sekolah.

Pada telapak tangannya,
garis-garis nasib
bukan ramalan,
melainkan jalan pulang
bagi kami yang pernah ia lahirkan.

Ibu menyimpan umur
bukan agar tetap muda,
melainkan agar kami
punya waktu untuk tumbuh.