Dairi, katasulsel.com – Di balik tenangnya kehidupan masyarakat Kabupaten Dairi, tersimpan fakta yang membuat banyak orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan.
Dalam waktu hanya tiga bulan, sedikitnya 30 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ditangani oleh UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Yang paling mengejutkan, korban termuda masih berusia sekitar 3,5 tahun.
Data tersebut diungkap Kepala UPT PPA Dairi, Eva Napitulu, berdasarkan laporan yang masuk sepanjang Maret hingga Juni 2026.
“Selama tiga bulan terakhir ada 30 kasus yang kami tangani,” ujarnya.
Dari puluhan kasus tersebut, kekerasan seksual menjadi kasus yang paling dominan. Korbannya sebagian besar perempuan, mulai dari anak-anak hingga pelajar.
Namun yang membuat kasus-kasus ini semakin memprihatinkan, banyak terduga pelaku justru berasal dari lingkungan yang selama ini dianggap aman oleh korban.
Hasil pendampingan dan penelusuran menunjukkan bahwa sejumlah pelaku merupakan orang dekat, bahkan masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.
“Beberapa kasus melibatkan kerabat dekat. Ada yang seharusnya menjadi pelindung, tetapi justru diduga menjadi pelaku,” kata Eva.
Menurutnya, salah satu penyebab yang sering ditemukan adalah rendahnya pengawasan terhadap anak karena keluarga merasa terlalu percaya kepada orang-orang di sekitarnya.
Fenomena ini banyak ditemukan di wilayah pedesaan dan daerah pelosok di Kabupaten Dairi, terutama pada keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Selain kasus kekerasan seksual, UPT PPA Dairi juga menangani empat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam periode yang sama.
Untuk membantu korban, lembaga tersebut memberikan layanan konseling, pendampingan psikologis, hingga penempatan di rumah perlindungan jika diperlukan.
“Kami berusaha memulihkan kondisi korban agar bisa kembali beraktivitas dan bersosialisasi secara normal,” jelasnya.
Jika kasus telah memenuhi unsur pidana, UPT PPA akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.
Data ini menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat Dairi bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menjaga mereka dari orang asing. Ancaman justru bisa datang dari lingkungan yang selama ini dianggap paling aman. (*)
Reporter : Sarifuddin Siregar / Dairi, Sumut
