Oleh: Sarifuddin Siregar

Masa menjalin asmara, masa menjalin cinta – boleh jadi sejuta rasa dan sejuta asa. Semua terasa indah dan serba sempurna. Kata pelantun tembang, seolah dunia milik berdua.

Masa berpacaran adalah masa seolah menemukan pasangan insan paling setia. Selalu menawar manja dan penyuguh dahaga. Setiap detik ingin bersama.

Selanjutnya, masa berumah tangga adalah tempo berisi realita. Bila pasangan suami istri tetap harmonis dan mesra seperti sedia kala , maka mereka adalah orang paling beruntung.

Namun, tidak sedikit pula, perahu tersebut retak hingga pecah berantakan. Kenangan manis berubah benci hingga penyesalan.

Lamria boru Manullang (58) beralamat di Desa Tanjung Beringin Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi Sumatera Utara adalah seorang yang mengalami getirnya berumah tangga.

“Dulu suami saya mengemis minta cinta. Kini, saya diterlantarkan dan sengsara. Hatiku penuh luka. Sakit”, ujar Lamria, Sabtu (27/6/2026).

Diungkapkan, setelah cerai mati dengan suami pertama marga Lubis, Lamria menjalani pemberkatan pernikahan kedua dengan LD di Tigalingga. Kala itu, Lamria berumur 50 tahun dan LD usia 76 tahun.

“Kami resmi menikah di gereja dan dilanjut pesta adat”, kata Lamria.

Namun, proses perjalanan menuju perkawinan, tidaklah mudah. Lamria mengutarakan, tidak pernah berhasrat menikah lagi.

Suatu hari, ia pergi ke rumah adiknya di Huta Kelep Desa Lau Bagot Kecamatan Tigalingga. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pria marga Sagala.

“Makin cantik kau kutengok”, ujar marga Sagala sebagaimana diulangi Lamria.

Kalimat itu, tidak membuatnya menanggapi lebih jauh. Lelaki itu menyebut, ingin mempertemukan Lamria dengan seorang temannya. Pasalnya, kawan tersebut ingin dari jodoh.

“Sesungguhnya, saya tidak tertarik”, kata Lamria.

Esok harinya, Sagala mendatangi kediaman adik Lamria sembari mengajaknya berdiri di satu titik. Entah sudah ada kode, tak lama berselang, seorang pria tua melintas dan menyapa mereka dari mobil. Kemudian, turun menemui.

Lamria menyebut, setelah melihat sosok, ia mengenal betul tamu berstatus lansia itu. Sebab, saat masih duduk di bangku SD kelas 2, tempat tinggal Lamria hanya berjarak 7 rumah dari kediaman LD di Desa Sukandebi.

Tanpa sungkan, kata Lamria, LD menyampaikan niat kepada adik Lamria. Mau nikah. Permintaan itu ditolak tetapi LD beberapa kali mengutarakan keinginan berumah tangga dengan Lamria.

Bukan itu saja, kata Lamria. LD mendatangi rumah abang dari Lamria di Desa Bangun Kecamatan Parbuluan. Sampai-sampai, pendekatan dilakukan melalui pendeta.

“LD menangis di hadapan abangku, agar saya mau menikah dengannya. 2 hari berturut-turut dia datang sembari bawa teman”, tutur Lamria.

Akhirnya, Lamria menerima pinangan LD, ayah dari oknum anggota DPRD Dairi berinisial RD.

“Kala itu, uang saya masih banyak. Dulu kerja di Malaysia dan Singapura”, kata Lamria.

Pemberkatan dilangsungkan di gereja berlanjut ke pesta adat di Tigalingga tahun 2019. Lamria menyadari, RD tidak setuju dengan rencana ayahnya.

“Acaranya meriah. Bupati, Eddy Keleng Ate Berutu hadir. Saat bernyanyi, LD mengelus pipiku di hadapan para tamu”, kata Lamria.

Sesudahnya, pasangan suami istri ini membeli 2 unit rumah di Barisan Tigor buat tempat tinggal. Biaya pembelian bersumber dari uang bersama. Dokumen dibuat atas nama Lamria.
“Saya merasakan kenikmatan berumah tangga selama 1 tahun. Sesudahnya, tiada hari tanpa amarah dan siksaan bathin”, kata Lamria.

Selama berumah tangga, Lamria tak pernah diberi kesempatan buat belanja kebutuhan dapur. Semuanya ditangani LD. Disharmoni muncul lantaran surat tanah di Sitinjo Desa Sitinjo — tak jauh dari Simpang Tiga atau Terminal, tak kunjung diserahkan Lamria.

LD bolak- balik minta surat padahal, asset dibeli Lamria tahun 2018 sebelum menikah. Surat atas namanya disertai alas hak. Dia juga membayar pajak tanah.

“Saya siapkan minuman susu, tetapi saya tidak ikut minum susu. Saya masak ikan enak tetapi tidak ikut mencicipi. Sepotong baju atau sandal jepit-pun tak pernah dibeli”, ujar Lamria.

Pun tersiksa, Lamria berusaha menyembunyikan tekanan. Ia tak mau aib rumah tangga tercium tetangga.

Perempuan ini mengutarakan, pernah diturunkan dari mobil lalu didorongkan hingga jatuh di lereng jembatan. Peristiwa ini terjadi saat perjalanan pulang dari ladang di Lau Molgap.

Itu, juga terkait minta surat tanah di Sitinjo. Dia kemudian diajak naik. Ia berpikir, kalau jalan kaki, jaraknya jauh dan bisa jadi bahan pertanyaan warga. Sebab, orang tahu, bahwa LD adalah orang kaya dan toke pupuk.

Lantaran tak tahan menanggung derita, Lamria memilih pindah ke Tanjung Beringin. Sesekali, ia menengok rumahnya di Sitinjo. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak.

“Hidup saya sudah susah. Terkadang kerja upahan metik cabe atau kopi biar bisa beli beras”, kata Lamria.

Diterangkan lagi, rumah miliknya di Sitinjo selalu jadi persoalan. Sebab, harta itu tak diserahkan kepada suami. Demi mempertahankan hak, dia menerima perlakukan kekerasan dari RD. Insiden ini tepatnya, Selasa (9/6/2026).

“Saya ditinju RD. Dijambak dicakar dan dipukul di teras rumah. Tindakan itu melibatkan istri RD dan orang bawaannya. Padahal, itu hasil jerih payah saya sebelum menikah dengan LD,” tandas Lamria.

Akibat kekerasan, matanya berdarah. Ia melapor ke Polres Dairi diikuti pengambilan visum di RSUD Sidikalang.

“Mata saya berdarah. Kepala, leher dan bahu terasa sakit, ” kata Lamria.

Perempuan ini berharap, pengaduannya diproses secara objektif oleh penegak hukum. Baginya, perlakuan RD terlalu sadis. Apalagi dialamatkan kepada perempuan yang tak berdaya.

Sebelumnya, RD membantah melakukan penganiayaan. Dia merasa korban.

“Saya tidak melakukan pemukulan. Justru, baju saya koyak lantaran ditarik-tarik. Barang bukti saya simpan”, kata RD.

RD menuturkan, pegangan tangan Lamria cukup kuat. Istrinya membantu untuk melepas namun gagal.

Upaya melepaskan diri berhasil atas pertolongan tetangga.

“Saya sudah membuat pengaduan lebih awal”, kata RD.

RD menyebut, tidak mengakui pernikahan ayahnya dengan Lamria. Menurutnya itu hanya kabar-kabar di masyarakat. Selentingan.

“Kami tidak mengakui pernikahan itu. Tidak pernah diberitahu orang tua”, kata RD.

Legislator partai Gerindra itu menyebut, pernikahan dengan istri kedua ayahnya diketahui menyusul adanya kartu keluarga. Ceritanya, jelang pemilu 7 tahun silam, LD tak menerima undangan ke TPS. Kala itu, RD merupakan anggota DPRD sekaligus calon anggota legislatif (caleg).

Karenanya, RD mempertanyakan ke KPPS. Setelah ditelusuri, rupanya LD dan Lamria terdaftar di TPS di Desa Tanjung Beringin.

“Saya marah ke Kadis Kependudukan, Deddy Situmorang. Kenapa ada KK atas nama ayah dan Lamria”, kata RD.

Diterangkan, rumah di Sitinjo yang menjadi TKP adalah miliknya. LD mengajaknya ke lokasi itu 3 tahun lalu. Pengakuan LD, asset itu dibeli. Ada suratnya.

“Kalau dia merasa itu rumahnya, tunjukkan surat. Selesai”, kata RD.

Lalu, apakah benar LD tidak memberi Lamria biaya belanja? Apakah menu makanan pasutri ini berbeda sampai siksaan bathin? Materi itu belum terkonfirmasi. Katasulsel akan minta penjelasan esok lusa.

Polres Dairi sedang menyelidiki dugaan penganiayaan terhadap Lamria.

“Saksi dan terlapor sudah dimintai keterangan. Dalam waktu dekat akan dikonfrontir”, kata Kasie Humas, AKP Syahril Ramadhan. (*)