Jakarta, katasulsel.com – Nama Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali bergema di panggung nasional. Kali ini bukan karena prestasi olahraga atau sektor pertanian, melainkan lewat suara seorang remaja 15 tahun bernama Puspita Sari Suwardi.

Penampilan Puspita di audisi D’Academy 8 sukses memancing perdebatan di meja juri.

Membawakan lagu legendaris “Fatamorgana”, gadis asal Sidrap itu tidak tampil dengan gaya berlebihan. Tidak ada aksi panggung yang mencolok. Tidak ada nada tinggi yang dipaksakan. Puspita memilih tampil sederhana dan mengandalkan karakter vokalnya.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat para juri memiliki pandangan berbeda.

Di hadapan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, Puspita berhasil membuat tiga juri memberikan penilaian yang tidak sama.

Dewi Perssik melihat bakat yang masih mentah tetapi memiliki peluang besar untuk berkembang. Menurutnya, Puspita masih harus memperbaiki banyak aspek, mulai dari teknik vokal, pengaturan napas, ekspresi hingga kekuatan karakter saat membawakan lagu.

Meski demikian, Dewi Perssik tetap memberikan lampu hijau.

Baginya, kemampuan seperti itu masih bisa diasah melalui proses pembelajaran dan pengalaman di panggung kompetisi.

Sementara itu, Soimah memiliki pandangan yang lebih kritis.

Ia menilai teknik bernyanyi Puspita belum cukup matang untuk level kompetisi nasional. Beberapa bagian lagu dianggap belum mampu menyampaikan emosi secara utuh karena penguasaan frasa dan pengaturan napas yang masih perlu diperbaiki.

Karena alasan tersebut, Soimah memilih memberikan NO.

Namun ketika satu juri menolak, Wika Salim justru menemukan kelebihan yang berbeda.

Menurutnya, tidak semua peserta memiliki warna suara yang mudah dikenali. Puspita dianggap mempunyai karakter vokal khas yang berpotensi menjadi identitas kuat jika terus diasah.

Bagi Wika, suara unik sering kali menjadi modal penting dalam industri musik dangdut modern yang penuh persaingan.

Keputusan Wika memberikan YES akhirnya menjadi penentu.

Dengan perolehan dua suara YES dan satu NO, langkah Puspita resmi berlanjut ke babak berikutnya.

Bagi masyarakat Sidrap, hasil tersebut bukan sekadar kelolosan seorang peserta audisi.

Ini menjadi bukti bahwa daerah yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan juga mampu melahirkan talenta seni yang siap bersaing di tingkat nasional.

Yang menarik, perjalanan Puspita di D’Academy 8 justru dimulai dari kritik, bukan pujian mutlak.

Namun dalam dunia pencarian bakat, situasi seperti itu sering menjadi pertanda baik. Banyak penyanyi besar lahir bukan karena dianggap sempurna sejak awal, melainkan karena memiliki sesuatu yang berbeda dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kini perhatian warga Sidrap dan penggemar D’Academy mulai tertuju pada langkah berikutnya.

Mampukah gadis 15 tahun dari Bumi Nene Mallomo ini menjawab keraguan sebagian juri dan membuktikan bahwa suara khasnya layak bersinar di panggung nasional?

Perjalanan masih panjang. Tetapi satu hal sudah pasti, nama Puspita Sari Suwardi kini mulai membawa nama Sidrap masuk dalam percakapan para pecinta dangdut Indonesia. (*)