Sidrap, katasulsel.com — Ancaman terbesar petani Sidrap saat ini bukan hama, bukan pula harga gabah. Yang paling dikhawatirkan adalah air yang semakin terbatas di tengah musim kemarau.
Di sejumlah wilayah persawahan, debit air irigasi mulai berkurang. Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru: tidak semua petani bisa memperoleh pasokan air yang cukup untuk menyelamatkan tanaman padi mereka.
Jika kondisi tersebut tidak dikelola dengan baik, sebagian petani berpotensi kehilangan hasil panen.
Persoalan itulah yang membuat Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif memilih lebih banyak berada di sawah dibanding di balik meja kantor dalam beberapa pekan terakhir.
Hampir seluruh kawasan pertanian yang tersebar di 11 kecamatan didatanginya satu per satu untuk melihat langsung kondisi lapangan.
Ancaman Gagal Panen Mulai Terlihat
Syaharuddin mengakui musim kemarau tahun ini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian Sidrap yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar berkurangnya air, tetapi bagaimana air yang tersedia bisa dibagi secara adil kepada seluruh petani.
“Kalau tidak diatur, ada petani yang tidak bisa panen karena tanamannya mati tidak tersentuh air,” kata Syaharuddin Alrif di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Selasa (10/8/2026) malam.
Pernyataan itu menggambarkan situasi yang sedang dihadapi petani di lapangan.
Ketika air semakin terbatas, kebutuhan setiap hamparan sawah tidak lagi sama. Ada tanaman yang masih mampu bertahan, tetapi ada pula yang berada pada fase kritis dan membutuhkan pasokan air segera.
Bupati Pilih Turun Langsung ke Sawah
Alih-alih hanya menerima laporan, Syaharuddin memilih turun langsung melakukan pemetaan kebutuhan air di berbagai kawasan pertanian.
Ia mengaku ingin memastikan distribusi air dilakukan berdasarkan kondisi riil tanaman di lapangan.
Sebagai anak petani, Syaharuddin mengaku memahami bahwa kebutuhan air tanaman padi berbeda-beda sesuai umur dan fase pertumbuhannya.
Karena itu, menurutnya, pembagian air tidak bisa dilakukan secara seragam.
Ada sawah yang membutuhkan pasokan lebih banyak karena memasuki fase penting pertumbuhan. Namun ada pula yang cukup mendapatkan suplai air dalam jumlah terbatas.
“Tanaman yang sudah masuk fase tertentu harus diprioritaskan. Kalau terlambat mendapatkan air, dampaknya bisa langsung terhadap produksi,” ujarnya.
Sidrap Berpacu dengan Waktu
Bagi Sidrap, persoalan air bukan hanya menyangkut nasib satu atau dua petani.
Kabupaten ini merupakan salah satu sentra produksi beras terbesar di Sulawesi Selatan yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan daerah.
Karena itu, setiap ancaman gagal panen memiliki dampak yang lebih luas, baik terhadap ekonomi petani maupun pasokan pangan.
Pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk memastikan seluruh lahan produktif tetap mendapatkan pasokan air yang cukup hingga masa panen tiba.
Langkah pemetaan dan pengaturan distribusi air menjadi strategi utama untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Pertaruhan Musim Tanam
Musim kemarau tahun ini menjadi ujian bagi sektor pertanian Sidrap.
Di satu sisi, petani harus mempertahankan tanaman yang sudah terlanjur ditanam. Di sisi lain, ketersediaan air semakin terbatas.
Karena itu, keberhasilan mengatur distribusi air dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penentu.
Jika pasokan air dapat dijaga dan dibagi secara merata, ribuan hektare sawah masih berpeluang menghasilkan panen yang baik.
Namun jika distribusi air tidak terkendali, ancaman gagal panen bisa menjadi kenyataan bagi sebagian petani.
Itulah sebabnya Syaharuddin Alrif memilih berada di tengah sawah bersama petani.
Baginya, di tengah kemarau, setiap tetes air bisa menentukan apakah petani panen atau justru merugi setelah berbulan-bulan menanam padi.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
