Ariffin Nur Adiguna
LUWU TIMUR — Di tengah derasnya arus modernisasi, masih banyak warisan budaya lokal yang belum terdokumentasi secara baik dan berisiko perlahan terlupakan. Berangkat dari kegelisahan itu, mahasiswa Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Ariffin Nur Adiguna, menghadirkan sebuah karya dokumentasi budaya melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Desa Gelombang 116 di Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.
Melalui program kerja individunya, Ariffin menyusun sebuah book chapter berjudul “Penulisan Kebudayaan Masyarakat Adat Karunsi’e Desa Ledu-Ledu”, yang memotret secara mendalam kehidupan, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat adat To Karunsi’e, salah satu komunitas adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga saat ini.
Karya tersebut diserahkan kepada Pemerintah Desa Ledu-Ledu pada 6 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas masyarakat lokal.
Mengungkap Jejak Budaya yang Jarang Tersentuh
Bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan, nama To Karunsi’e mungkin masih terdengar asing.
Padahal, komunitas adat ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Rahampu’u Matano, dan dikenal sebagai kelompok masyarakat yang dahulu berperan penting dalam menjaga serta mengelola sumber pangan kerajaan.
Dalam penelitiannya, Ariffin menemukan bahwa identitas masyarakat To Karunsi’e sangat erat dengan Si’e, atau lumbung padi tradisional, yang bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen, tetapi juga memiliki nilai sakral dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
“Lumbung atau Si’e bukan hanya simbol ketahanan pangan, tetapi juga menjadi pusat berbagai aktivitas adat yang diwariskan turun-temurun,” ungkap Ariffin.
Kisah We Reali dan Asal-Usul Padi
Salah satu temuan menarik dalam dokumentasi tersebut adalah cerita rakyat tentang We Reali, sosok yang diyakini masyarakat sebagai bagian dari asal-usul padi.
Legenda ini bahkan menjadi dasar penamaan Dusun Pae-Pae, yang dalam bahasa setempat berkaitan dengan padi sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Cerita tersebut masih hidup dalam ingatan para tetua adat dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Karunsi’e.
Tak hanya itu, masyarakat juga mengenal filosofi hidup “Tokia Mokora Pa’a Langkai”, yang bermakna lengan yang kuat dan paha yang kekar.
Filosofi tersebut mencerminkan semangat kerja keras, ketangguhan, dan kemandirian yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menanam Padi Saat Bulan Purnama
Penelitian yang dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh adat juga mengungkap berbagai praktik kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini.
Salah satunya adalah tradisi menanam padi pada saat bulan purnama.
Masyarakat percaya waktu tersebut membawa pengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen.
Selain itu, warga juga masih memanfaatkan berbagai tanaman herbal tradisional, termasuk daun monto (daun waru), sebagai bagian dari pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dalam aspek sosial, masyarakat To Karunsi’e juga dikenal memiliki sistem perkawinan dan aturan adat yang masih dijaga dengan kuat oleh komunitas.
Bahasa dan Kesenian yang Berbeda
Keunikan lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah penggunaan bahasa Karunsi’e, yang memiliki karakteristik berbeda dari bahasa Bugis maupun Makassar yang dominan digunakan di Sulawesi Selatan.
Bahasa tersebut menjadi salah satu penanda identitas yang membedakan masyarakat Karunsi’e dengan komunitas lain di sekitarnya.
Sementara dalam bidang kesenian, masyarakat memiliki sejumlah warisan budaya yang masih dikenal hingga sekarang, seperti:
- Tari Momaani, yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan perang.
- Tari Mo’isa, yang terinspirasi dari aktivitas menumbuk padi.
- Mehule, permainan tradisional berupa gasing yang dimainkan secara turun-temurun.
Dari Dokumentasi ke Pelestarian Budaya
Menurut Ariffin, penyusunan book chapter ini bukan sekadar memenuhi program kerja KKN, tetapi menjadi upaya nyata untuk mendokumentasikan budaya lokal yang selama ini belum banyak dikenal publik.
“Book chapter ini diharapkan menjadi jembatan pengenalan bagi masyarakat luas terhadap salah satu permata budaya Nusantara yang selama ini tersembunyi, sekaligus mendorong lahirnya penelitian dan kegiatan pelestarian budaya lainnya di masa mendatang,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Ariffin juga menyerahkan poster pengenalan budaya masyarakat To Karunsi’e kepada Pemerintah Desa Ledu-Ledu agar dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi masyarakat dan generasi muda.
Menjaga Identitas di Tengah Modernisasi
Melalui program KKN-T ini, mahasiswa Unhas tidak hanya hadir membawa program pemberdayaan, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menjaga memori kolektif dan identitas budaya masyarakat adat.
Dokumentasi budaya To Karunsi’e diharapkan menjadi referensi penting bagi pemerintah, akademisi, maupun pelaku pariwisata dalam mengembangkan potensi budaya lokal Luwu Timur secara berkelanjutan.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, upaya sederhana seperti mendokumentasikan cerita, bahasa, dan tradisi leluhur menjadi langkah penting agar warisan budaya tidak hilang ditelan waktu. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
