Sidrap, katasulsel.com — Langit Kanyuara, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kamis, 10 September 2026, mendadak berubah menjadi arena latihan militer. Dari ketinggian ribuan kaki, satu per satu penerjun payung mulai keluar dari pintu pesawat. Kanopi-kanopi warna-warni mengembang sempurna. Mereka melayang turun menuju drop zone yang telah disiapkan.
Bukan sekadar demonstrasi kemampuan prajurit lintas udara.
Latihan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemampuan tempur prajurit Batalyon Infanteri 431 yang berada di bawah Brigade Infanteri 3, Divisi Infanteri 3 Kostrad. Satuan ini dikenal sebagai salah satu pasukan yang setiap saat harus siap diterjunkan ke berbagai wilayah Indonesia, kapan pun negara membutuhkan.
Sekitar 200 personel terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Jika dihitung bersama unsur pendukung, jumlahnya mencapai sekitar 250 orang.
Namun yang menarik, suasana latihan tempur itu justru terasa akrab dengan masyarakat.
Sejak pagi, warga berbondong-bondong memadati lokasi. Mereka ingin menyaksikan dari dekat bagaimana pasukan lintas udara melaksanakan penerjunan, manuver pendaratan hingga simulasi penguasaan area.
Kehadiran masyarakat ternyata mendapat sambutan hangat dari jajaran TNI. Selain latihan, kegiatan juga dirangkaikan dengan bakti sosial berupa pembagian sembako kepada warga sekitar.
Tidak hanya itu, para prajurit juga ikut dalam panen raya bersama Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif.
Panglima Divisi Infanteri 3 Kostrad, Mayjen TNI Wulan Nur Yudhanto, mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap Sidrap.
Menurutnya, daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan itu memiliki daya tahan yang luar biasa menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
“Sidrap ini memiliki kemampuan dan ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi perkembangan situasi, khususnya cuaca ekstrem. Saya melihat langsung saat ikut panen. Kalau di wilayah lain pada musim El Nino rata-rata hanya menghasilkan sekitar 5 sampai 6 ton per hektare, di Sidrap bisa mencapai 11 ton per hektare,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan basa-basi.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang mulai mengganggu banyak daerah sentra pertanian nasional, Sidrap justru menunjukkan performa berbeda. Produksi tetap tinggi. Sawah tetap produktif.
Karena itulah, menurut Mayjen Wulan, Sidrap bukan hanya cocok sebagai daerah latihan militer, tetapi juga menjadi contoh ketahanan wilayah yang sesungguhnya.
Pemilihan Sidrap sebagai lokasi latihan lintas udara pun bukan tanpa alasan.
Faktor pertama adalah ketersediaan area yang luas dan aman untuk penentuan drop zone penerjunan. Faktor kedua, kondisi geografis yang mendukung pelaksanaan latihan. Namun yang paling penting adalah penerimaan masyarakat dan pemerintah daerah.
“Kami memilih Sidrap karena wilayahnya cukup luas dan aman untuk latihan. Yang paling penting, kami diterima dengan baik oleh pemerintah daerah dan masyarakat,” katanya.
Hal itu terlihat dari lengkapnya unsur Forkopimda yang hadir. Mulai dari Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Dandim, Kapolres hingga sejumlah pejabat lainnya tampak menyaksikan langsung kegiatan tersebut.
Di dunia pasukan lintas udara, keberhasilan sebuah operasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan prajurit keluar dari pesawat dan mendarat tepat sasaran. Ada faktor lain yang tak kalah penting, yakni dukungan wilayah operasi.
Dan di Kanyuara, dukungan itu terlihat nyata.
Saat para penerjun menyentuh bumi Sidrap dan menggulung kanopi mereka, tepuk tangan warga pun pecah. Anak-anak berlari mendekat. Orang tua mengabadikan momen dengan telepon genggam.
Latihan militer yang biasanya identik dengan kesan kaku dan tertutup, kali ini justru menjadi tontonan rakyat.
Langit Kanyuara menjadi saksi. Pasukan siap tempur memang datang untuk berlatih. Tetapi mereka pulang membawa pesan lain: kedekatan TNI dengan rakyat tetap menjadi salah satu kekuatan utama pertahanan negara.(*)
Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)
