Enrekang, Katasulsel.com — Di sebuah kawasan berbatu di Desa Kadingeh, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, terdapat kuburan tua yang tidak seperti pemakaman pada umumnya.
Di sana, ratusan tengkorak dan tulang belulang tersusun di antara batu-batu. Sebagian berada di permukaan batu, sementara sebagian lainnya disimpan di dalam peti kayu yang menggantung di gua batu.
Tempat itu dikenal dengan nama Lamunan To’jolojolo Manduk Patinna atau Kuburan Tua Manduk Patinna. Situs tersebut tercatat sebagai salah satu wisata budaya di Desa Wisata Kadingeh.
Tengkorak dan tulang belulang yang berada di kawasan tersebut disebut sebagai jenazah leluhur warga Kadingeh.
Peti-peti kayu juga menjadi bagian dari situs tersebut. Bentuk bagian bawah beberapa peti berupa persegi panjang, sedangkan bagian penutupnya menyerupai perahu.
Dari sejumlah peti yang terdapat di lokasi, terdapat satu peti yang memiliki ukiran. Dalam keterangan Desa Wisata Kadingeh, peti tersebut diindikasikan sebagai tempat jenazah seorang bangsawan dari Desa Kadingeh.
Berada di Kawasan Batu
Manduk Patinna berada di kawasan gunung batu. Situs ini menjadi bagian dari jejak kehidupan masyarakat masa lampau di Kadingeh.
Laman resmi Desa Wisata Kadingeh mencatat adanya sejumlah peninggalan sejarah di wilayah tersebut, termasuk susunan batu kuno bernama Tondok Asaan serta Tondok Banoa Lamunan To’jolo-jolo atau kuburan kuno Manduk Patinna.
Keberadaan peninggalan tersebut juga dikaitkan dengan kelompok manusia yang telah lama memanfaatkan sumber daya alam di sekitar Kadingeh. Dalam keterangan atraksi Manduk Patinna, disebutkan pula adanya temuan megalitik yang digunakan untuk kebutuhan ritual dan hunian.
Karena berada di kawasan hutan dan dekat tebing batu, perjalanan menuju lokasi tidak seperti mengunjungi pemakaman biasa. Laporan detikSulsel pada 2022 menyebut lokasi makam berjarak sekitar dua kilometer dari pusat desa, tepatnya dari Dusun Dea Kaju, dan pengunjung perlu berjalan kaki menuju kawasan makam.
Ada Peti dengan Bentuk Menyerupai Perahu
Salah satu bagian yang menarik perhatian di Manduk Patinna adalah bentuk peti jenazahnya.
Bagian penutup peti menyerupai bentuk perahu. Tidak semua peti memiliki ukiran. Salah satu peti yang memiliki ukiran disebut berkaitan dengan makam seorang bangsawan Kadingeh.
Dalam laporan detikSulsel, Kepala Desa Kadingeh saat itu, Umar, menyebut peti milik Indo Manuk Patina sebagai salah satu peti terbesar di kawasan tersebut. Pada bagian petinya terdapat ukiran kuno, termasuk aksara Lontara.
Selain peti dan tulang belulang, warga juga pernah menemukan sejumlah benda yang kemudian disimpan di museum desa. Di antaranya sumpit untuk berburu, sisir tradisional berbahan bambu, gelang, serta pecahan piring kuno.
Mirip Kuburan Tua di Toraja
Secara bentuk, Lamunan To’jolojolo Manduk Patinna memiliki kemiripan dengan sejumlah kuburan tua yang terdapat di wilayah Toraja.
Namun, kemiripan tersebut belum cukup untuk memastikan adanya hubungan atau kontak budaya antara masyarakat Kadingeh dengan Toraja.
Keterangan resmi Desa Wisata Kadingeh secara eksplisit menyebut hubungan tersebut belum diketahui secara pasti.
Hal itu membuat Manduk Patinna tetap menjadi bagian tersendiri dari jejak sejarah Kadingeh.
Nama Lamunan To’jolojolo sendiri digunakan untuk menyebut kuburan kuno tersebut. Sementara Manduk Patinna menjadi nama yang melekat pada kawasan makam.
Kini, Manduk Patinna tercatat sebagai salah satu atraksi wisata budaya Desa Wisata Kadingeh. Situs tersebut tidak hanya berada dalam daftar tujuan wisata desa, tetapi juga menjadi bagian dari peninggalan sejarah yang dapat ditelusuri di kawasan Kadingeh.
Di antara batu, peti kayu, dan tulang belulang yang tersusun di kawasan itu, jejak orang-orang yang pernah hidup di Kadingeh masih dapat dilihat sampai sekarang.
