Barru, Katasulsel.com — Ada satu angka yang mencolok dari perubahan anggaran Kabupaten Barru 2026: Rp855.356.490.613,54.

Angka itu bukan pendapatan. Itu adalah rencana belanja daerah setelah perubahan.

Jumlahnya melonjak dari Rp757.845.388.333 menjadi Rp855,35 miliar. Ada tambahan sekitar Rp97,51 miliar hanya dalam satu perubahan anggaran.

Di sisi lain, pendapatan daerah diproyeksikan berada di angka Rp804.379.622.075, naik dari sebelumnya Rp766.399.388.333.

Dengan kata lain, pendapatan bertambah sekitar Rp37,98 miliar, tetapi belanja bertambah hampir tiga kali lipat dari kenaikan pendapatan tersebut.

Inilah salah satu poin menarik dari Rancangan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Rancangan Perubahan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Kabupaten Barru Tahun Anggaran 2026 yang disampaikan Wakil Bupati Barru Abustan A Bintang mewakili Bupati Andi Ina Kartika Sari dalam Rapat Paripurna DPRD Barru.

Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Barru.

Bagi pemerintah daerah, perubahan ini merupakan bagian dari siklus pengelolaan keuangan daerah. Tetapi bagi publik, deretan angka tersebut menyimpan pertanyaan yang lebih sederhana: tambahan hampir Rp100 miliar itu akan dibelanjakan untuk apa dan seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat?

Abustan mengatakan perubahan KUA-PPAS bukan sekadar formalitas tahunan. Dokumen tersebut menjadi ruang bagi pemerintah dan DPRD untuk menyelaraskan kembali prioritas pembangunan dengan kondisi fiskal daerah.

“Forum ini menjadi ruang sinergi kebijakan antara eksekutif dan legislatif untuk memastikan setiap program, kegiatan, dan alokasi anggaran yang dirumuskan dalam Perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026 benar-benar mencerminkan prioritas pembangunan daerah,” ujarnya.

Jika angka-angkanya dibedah, perubahan terbesar terlihat pada sisi belanja.

Belanja operasi menjadi Rp692,36 miliar dari sebelumnya Rp635,50 miliar. Artinya, terdapat tambahan sekitar Rp56,86 miliar.

Belanja modal bahkan hampir berlipat dua. Dari Rp36,94 miliar menjadi Rp74,13 miliar. Kenaikannya sekitar Rp37,19 miliar.

Sementara belanja transfer naik dari Rp81,14 miliar menjadi Rp85,29 miliar.

Ada pula satu pos yang justru turun. Belanja tidak terduga berkurang dari Rp4,24 miliar menjadi Rp3,55 miliar.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan anggaran Barru tidak sekadar menaikkan angka secara keseluruhan. Ada pergeseran ruang fiskal pada sejumlah pos belanja, terutama belanja operasi dan belanja modal.

Di sisi pendapatan, PAD juga bergerak naik meski tidak sebesar kenaikan belanja.

PAD sebelumnya Rp132.955.859.429 menjadi Rp133.906.511.404. Dengan demikian, PAD bertambah sekitar Rp950,65 juta.

Pendapatan transfer sebelumnya tercatat Rp633.443.528.904. Dalam bahan penyampaian, angka setelah perubahan tertulis Rp670.473.110. Angka tersebut perlu diklarifikasi kembali karena secara matematis sangat jauh dibandingkan angka sebelumnya dan berpotensi merupakan kesalahan penulisan satuan atau nominal dalam dokumen.

Pemerintah Kabupaten Barru mengatakan perubahan anggaran disusun dengan mempertimbangkan RPJMD, Perubahan RKPD serta arah kebijakan pemerintah pusat dan provinsi.

Prinsip yang digunakan adalah money follows program. Sederhananya, uang mengikuti program prioritas, bukan program dibuat sekadar untuk menghabiskan uang.

Di titik inilah pembahasan antara pemerintah dan DPRD menjadi penting.

Sebab, ketika belanja daerah bertambah Rp97,51 miliar sementara pendapatan hanya naik Rp37,98 miliar, publik berhak mengetahui bagaimana selisih pembiayaan tersebut ditutup dan program apa yang menjadi prioritas.

Abustan memastikan keterbatasan fiskal tetap menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun perubahan anggaran.

Ia menegaskan setiap rupiah harus diarahkan untuk mendukung pembangunan, pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Perubahan KUA-PPAS tersebut selanjutnya menjadi pijakan menuju penyusunan Rancangan Perubahan APBD 2026.

Dan di balik angka Rp855,35 miliar itu, pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai: memastikan uang daerah tidak hanya besar di atas kertas, tetapi benar-benar berubah menjadi jalan yang lebih baik, pelayanan yang lebih cepat, pembangunan yang lebih merata dan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat Barru.(*)