Bone, Katasulsel.com — Sungai lebih dulu dibersihkan.
Warga turun membawa sapu lidi, ember, dan alat sederhana lainnya. Sampah yang berada di sekitar sungai dikumpulkan. Setelah itu, rangkaian kegiatan berlanjut dengan menyiapkan makanan dan perlengkapan yang akan digunakan dalam acara.
Barulah warga menceburkan diri ke sungai.
Bukan karena sungainya kotor.
Justru sungai tersebut menjadi bagian penting dari sebuah tradisi yang dilakukan setelah panen.
Namanya Cemme Passili.
Tradisi ini masih dilakukan masyarakat Dusun Ulo-Ulo, Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone. Pada 2024, Cemme Passili ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sulawesi Selatan dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan.
Sungainya Dibersihkan Lebih Dahulu
Cemme Passili di Ulo-Ulo bukan hanya soal mandi bersama.
Penelitian mengenai tradisi tersebut mencatat bahwa rangkaian kegiatan dimulai dengan membersihkan sungai secara bergotong royong.
Warga menggunakan sapu lidi untuk membersihkan bagian pinggir sungai. Sampah kemudian dikumpulkan menggunakan ember dan alat yang oleh masyarakat setempat disebut sodokan atau serokan.
Setelah lingkungan sungai selesai dibersihkan, rangkaian tradisi berlanjut.
Ada makanan yang disiapkan.
Ada pula bagian lain yang dilakukan sebelum warga akhirnya turun ke sungai.
Dengan begitu, sungai bukan sekadar tempat pelaksanaan.
Ia lebih dulu dipersiapkan oleh masyarakat yang akan menggunakannya bersama-sama.
Ada Kue Bernama Beppa Pitu’e
Salah satu bagian yang menarik dari Cemme Passili adalah keberadaan beppa pitu’e.
Kue tersebut berbentuk bulat dan berwarna merah.
Namanya berkaitan dengan angka tujuh. Dalam penelitian mengenai Cemme Passili di Ulo, angka tersebut memiliki posisi khusus dalam kepercayaan masyarakat setempat sehingga kue itu disebut beppa pitu’e.
Selain makanan tersebut, penelitian juga mencatat adanya penyembelihan kuda sebagai bagian dari rangkaian acara.
Kuda yang digunakan berkaitan dengan acara syukuran atas hasil panen dan kemudian menjadi makanan dalam pelaksanaan tradisi.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa Cemme Passili tidak berdiri sebagai satu kegiatan mandi saja.
Ada pekerjaan bersama.
Ada makanan.
Ada syukuran setelah panen.
Baru kemudian masyarakat menuju bagian utama tradisi.
Pemimpin Desa Ikut Menceburkan Diri
Bagian ini yang membuat Cemme Passili berbeda dari kegiatan mandi biasa.
Dalam pelaksanaan yang didokumentasikan dalam penelitian, para pemimpin desa lebih dahulu menceburkan diri ke sungai.
Setelah itu, warga ikut turun dan menceburkan diri secara bersama-sama.
Air sungai kemudian menjadi tempat masyarakat melakukan pembersihan diri setelah menyelesaikan satu musim panen.
Tradisi tersebut dilaksanakan setiap tahun, setelah panen dan sebelum masyarakat kembali menggarap kebun untuk musim tanam berikutnya.
Jadi, ada jeda di antara dua pekerjaan besar masyarakat.
Panen telah selesai.
Musim tanam berikutnya belum dimulai.
Di antara keduanya, masyarakat berkumpul di sungai.
Bukan Hanya Dilakukan Setelah Panen
Nama Cemme Passili ternyata tidak hanya dikenal dalam konteks kegiatan masyarakat setelah panen.
Dalam kebudayaan Bugis, istilah yang sama juga digunakan dalam beberapa rangkaian adat, termasuk perkawinan.
Dalam konteks pernikahan, Cemme Passili dikenal sebagai mandi tolak bala bagi calon pengantin. Sejumlah kajian mengenai perkawinan Bugis mencatat prosesi tersebut dilakukan sebelum tahapan adat berikutnya.
Namun, pelaksanaan di Ulo-Ulo memiliki konteks yang berbeda.
Di sana, Cemme Passili dilakukan oleh masyarakat setelah panen dan sebelum kembali mengolah kebun.
Karena itu, satu nama dapat merujuk pada praktik yang berbeda sesuai dengan konteks masyarakat yang menjalankannya.
Tradisi yang Dilakukan Satu Kampung
Cemme Passili di Ulo-Ulo memperlihatkan bahwa kegiatan setelah panen tidak berhenti ketika hasil pertanian telah dikumpulkan.
Masyarakat kembali berkumpul.
Sungai dibersihkan.
Makanan disiapkan.
Kemudian warga turun ke air bersama-sama.
Pemerintah Kabupaten Bone juga masih menjalankan Cemme Passili dalam konteks pelestarian budaya. Pada 29 Oktober 2025, Pemkab Bone bersama Kerukunan Keluarga Wija Arungpone melaksanakan Cemme Passili di Lapangan Merdeka Watampone. Dalam kegiatan tersebut, air dari empat sumur kerajaan dibawa ke lokasi, kemudian para Bissu memimpin prosesi simbolik sebelum dilanjutkan dengan siraman massal peserta.
Pelaksanaan di Watampone itu menunjukkan bahwa Cemme Passili tidak hanya tersimpan dalam catatan lama.
Tradisinya masih dipraktikkan, meskipun bentuk pelaksanaannya dapat berbeda sesuai tempat dan konteks.
Di Ulo-Ulo, gambarnya lebih sederhana.
Setelah panen, warga berkumpul di sungai.
Sebelum digunakan, sungai dibersihkan bersama.
Lalu satu per satu orang turun ke air.
Dari tepi sungai, kegiatan itu tampak seperti warga sedang mandi bersama.
Tetapi di baliknya ada satu rangkaian yang sudah dimulai sejak sungai dibersihkan: Cemme Passili, tradisi tahunan masyarakat Ulo-Ulo setelah panen dan sebelum musim tanam berikutnya dimulai.
