Soppeng, Katasulsel.com – Nama Cabenge di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, tidak hanya berkaitan dengan aktivitas masyarakat dan jalur penghubung antardaerah. Kawasan ini juga menyimpan jejak kehidupan prasejarah berupa artefak batu dan fosil hewan purba yang ditemukan di sekitar Lembah Walanae.

Temuan tersebut menjadikan Cabenge dan wilayah sekitarnya penting dalam penelitian arkeologi. Para peneliti mempelajari artefak batu untuk memahami teknologi yang digunakan manusia pada masa lalu, sekaligus menelusuri hubungan antara lingkungan, persebaran temuan, dan kehidupan manusia prasejarah.

Penelitian arkeologi yang diterbitkan dalam Walennae: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara mencatat bahwa banyak situs paleolitik di kawasan Cabenge berada di sepanjang Sungai Walanae, baik pada teras sungai purba maupun tepian sungai yang ada sekarang.

Kapak Batu hingga Alat Serpih Ditemukan

Temuan arkeologi di sekitar Cabenge terdiri atas beragam alat batu. Laporan kegiatan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran pada 2022 menyebutkan jenis temuan berupa kapak perimbas, kapak penetak, kapak genggam, pahat genggam, alat serpih, serut, pisau, bilah, batu inti, dan serpihan sisa produksi.

Ragam tersebut memperlihatkan bahwa batu dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat berbagai perkakas. Bentuk dan karakter artefak menjadi petunjuk bagi arkeolog untuk mengkaji teknologi yang berkembang pada masa prasejarah.

Sebaran temuan tidak terkumpul hanya di satu titik. Sejumlah lokasi berada di kawasan Lembah Walanae, meliputi Calio atau Berru, Salaonro, Marale, Paroto, Lakibong, Kecce, Lenrang, Jampu, Lonrong, dan Talepu.

Karena tersebar di beberapa lokasi, kawasan Cabenge lebih tepat dipahami sebagai bagian dari bentang arkeologi yang luas, bukan satu situs tunggal dengan seluruh temuan berada di tempat yang sama.

Lembah Walanae Menyimpan Fosil Hewan Purba

Selain artefak batu, kawasan sekitar Cabenge juga dikenal melalui temuan fosil fauna. Laporan kegiatan pelestarian situs manusia purba pada 2022 menyebut sejumlah hewan yang pernah hidup di kawasan tersebut, antara lain Stegodon sompoensis, Elephas celebensis, babi purba berukuran besar, dan kura-kura darat raksasa.

Temuan artefak dan fosil memberikan dua jenis informasi yang saling melengkapi. Artefak membantu peneliti mempelajari aktivitas manusia, sedangkan fosil memberikan petunjuk mengenai fauna dan lingkungan pada masa lampau.

Meski ditemukan dalam kawasan arkeologi yang sama, keberadaan artefak dan fosil tidak otomatis membuktikan bahwa manusia pembuat alat batu hidup sezaman dengan setiap jenis hewan yang ditemukan. Penentuan umur dan hubungan antartemuan memerlukan analisis arkeologi, geologi, dan paleontologi.

Kajian mengenai Lembah Walanae karena itu tidak hanya berurusan dengan benda-benda yang ditemukan, tetapi juga dengan lapisan tanah dan konteks tempat temuan tersebut berada.

Sungai Purba dan Persebaran Situs

Sungai Walanae memiliki peran penting dalam penelitian kawasan ini. Sejumlah situs paleolitik ditemukan di tepi sungai maupun pada teras sungai purba, yaitu bentang lahan yang terbentuk dari aktivitas sungai pada masa sebelumnya.

Pola persebaran itu menjadi salah satu dasar penelitian untuk memahami hubungan antara lingkungan dan lokasi aktivitas manusia prasejarah. Aliran sungai serta bentang alam di sekitarnya membantu peneliti membaca konteks geografis temuan.

Penelitian Budianto Hakim yang terbit dalam jurnal Walennae pada 2018 juga menelusuri kemungkinan persebaran tinggalan paleolitik ke kawasan Bone bagian barat. Kajian tersebut menunjukkan adanya keterkaitan budaya alat batu antara wilayah Soppeng dan kawasan yang terhubung dengan Lembah Walanae.

Dengan demikian, penelitian prasejarah di Cabenge tidak berdiri sendiri dalam batas administratif Kabupaten Soppeng. Kawasan tersebut menjadi bagian dari kajian lebih luas tentang persebaran artefak batu di Sulawesi Selatan.

Pelestarian Situs Menjadi Tantangan

Pada 29 Juni 2022, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menginisiasi diskusi kelompok terarah di Cabenge untuk membahas penetapan dan pengelolaan situs-situs di kawasan tersebut. Kegiatan itu melibatkan pemerintah daerah dan sejumlah pihak yang berkaitan dengan pelestarian kebudayaan.

Dalam kegiatan tersebut, temuan artefak batu dan fosil dipandang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan. Pengelolaan situs juga diarahkan untuk mendukung penelitian serta pendidikan publik.

Namun, keberadaan temuan arkeologi tidak dengan sendirinya menjamin perlindungan kawasan. Pendataan lokasi, penelitian lanjutan, dokumentasi, dan koordinasi dengan pemilik lahan menjadi bagian penting dalam menjaga situs agar tidak kehilangan konteks sejarahnya.

Catatan kegiatan 2022 tersebut membahas proses menuju penetapan situs. Karena itu, status hukum masing-masing lokasi perlu diperiksa melalui data terbaru sebelum disebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Di Cabenge dan kawasan Lembah Walanae, nilai arkeologi tidak hanya terletak pada artefak yang ditemukan, tetapi juga pada lokasi dan lapisan tanah yang memungkinkan para peneliti memahami konteks temuan tersebut. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru