Soppeng, Katasulsel.com — Di tengah bentang sejarah Kabupaten Soppeng, ada sebuah batu yang tidak sekadar menjadi bagian dari lanskap. Batu itu berkaitan dengan tradisi pelantikan dan perjalanan kekuasaan di wilayah Bugis.

Namanya Batu Pallantikang.

Nama tersebut merujuk pada batu yang dalam tradisi masyarakat setempat dikaitkan dengan proses pelantikan atau pengukuhan penguasa. Keberadaannya menjadi salah satu tinggalan yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan pada masa lalu tidak hanya dibangun melalui pemerintahan, tetapi juga melalui simbol dan ritual.

Batu Pallantikang berada di wilayah Soppeng, daerah yang sejak masa lalu memiliki hubungan erat dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Bugis.

Batu dan Tradisi Pelantikan

Dalam tradisi Bugis, benda atau tempat tertentu dapat memiliki kedudukan penting karena berkaitan dengan peristiwa politik dan adat.

Batu Pallantikang menjadi salah satu contoh bagaimana ruang fisik dapat menyimpan ingatan tentang pergantian atau pengukuhan kekuasaan.

Istilah pallantikang sendiri berkaitan dengan kata lantik, yang merujuk pada pelantikan.

Karena itu, nama tersebut tidak muncul tanpa konteks. Ia mengingatkan pada masa ketika pengangkatan seorang pemimpin memiliki rangkaian adat dan simbol yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.

Soppeng sendiri memiliki sejarah kerajaan yang panjang. Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat kekuasaan Bugis dan memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Bukan Sekadar Batu

Yang membuat tinggalan seperti Batu Pallantikang menarik bukan bentuk batunya semata.

Nilainya terletak pada cerita yang melekat padanya.

Dalam masyarakat tradisional, sebuah batu, makam, rumah adat, atau tempat tertentu dapat menjadi penanda peristiwa yang pernah dianggap penting oleh generasi sebelumnya.

Jejak semacam itu membantu memperlihatkan bahwa sejarah kerajaan tidak hanya tersimpan dalam lontaraq atau dokumen tertulis.

Sebagian lainnya justru berada di ruang yang masih dapat dilihat masyarakat hingga sekarang.

Batu Pallantikang menjadi salah satu contoh bagaimana sejarah politik dan tradisi adat dapat bertemu dalam sebuah tempat.

Soppeng dan Ingatan tentang Kerajaan Bugis

Soppeng memiliki dua wilayah kerajaan yang dalam sejarah dikenal sebagai Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau. Perkembangan kedua wilayah tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang pemerintahan dan masyarakat Soppeng.

Hubungan antarkerajaan juga membuat sejarah Soppeng tidak berdiri sendiri.

Perkawinan politik, hubungan kekerabatan, perdagangan, dan persaingan kekuasaan menjadi bagian dari dinamika kerajaan-kerajaan Bugis.

Dalam konteks tersebut, tinggalan seperti Batu Pallantikang menjadi menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai benda lama, tetapi sebagai bagian dari sistem sosial yang pernah mengatur bagaimana kekuasaan diwariskan dan diakui.

Ketika Batu Menjadi Penanda Sejarah

Hari ini, kehidupan masyarakat Soppeng telah jauh berubah.

Pemerintahan kerajaan tidak lagi menjadi sistem politik yang mengatur kehidupan sehari-hari. Jalan raya, sekolah, kantor pemerintahan, dan permukiman modern tumbuh di ruang yang sama dengan berbagai peninggalan masa lalu.

Namun, tinggalan sejarah tetap memiliki fungsi lain.

Ia menjadi penanda bahwa ruang yang ditempati masyarakat hari ini memiliki lapisan sejarah yang lebih panjang.

Batu Pallantikang adalah salah satunya.

Sebuah batu mungkin tidak dapat menceritakan sendiri siapa yang pernah berdiri di atasnya atau bagaimana sebuah pelantikan berlangsung. Tetapi nama, tradisi, dan ingatan masyarakat yang melekat padanya membuat benda itu tetap memiliki tempat dalam sejarah Soppeng.

Di tengah Soppeng yang terus berubah, Batu Pallantikang menjadi salah satu jejak yang menghubungkan masyarakat hari ini dengan masa ketika kekuasaan, adat, dan simbol masih dirangkai dalam satu prosesi.(*)