Bantaeng, Katasulsel.com — Sebuah kompleks makam di Kabupaten Bantaeng menyimpan jejak perjalanan seorang raja Bone yang namanya berkaitan dengan salah satu babak penting islamisasi di Sulawesi Selatan.

Namanya La Tenri Ruwa Sultan Adam, Raja Bone XI yang kemudian dikenal dengan gelar Matinroe ri Bantaeng karena meninggal dan dimakamkan di Bantaeng. Pemerintah Kabupaten Bone mencatat La Tenri Ruwa memerintah sebagai Raja Bone XI pada 1611.

Kompleks Makam La Tenri Ruwa berada di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Situs tersebut ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Nomor 240/M/1999 pada 4 Oktober 1999.

La Tenri Ruwa naik takhta Bone pada 1611. Dalam sejumlah catatan sejarah, ia menjadi salah satu tokoh penting dalam proses awal penerimaan Islam di Kerajaan Bone. Ia menerima ajakan Sultan Alauddin dari Gowa untuk memeluk Islam, keputusan yang kemudian mendapat penolakan dari sebagian elite adat Bone.

Pemerintah Kabupaten Bone mencatat masa pemerintahan La Tenri Ruwa berlangsung singkat. Setelah tidak lagi memegang takhta, ia kemudian menetap di Bantaeng hingga akhir hayatnya. Karena itu, gelar Matinroe ri Bantaeng melekat pada namanya.

Jejak sejarah tersebut masih dapat dilihat melalui kompleks makam yang berada di Bantaeng. Penelitian konservasi cagar budaya menyebut kompleks ini memiliki nilai penting sejarah karena menjadi salah satu bukti kejayaan Bantaeng pada masa lalu. Kompleks tersebut juga memiliki beragam bentuk makam dan nisan yang menunjukkan keterampilan pengerjaan pada masa kerajaan.

Keberadaan makam La Tenri Ruwa juga memperlihatkan hubungan sejarah yang tidak sederhana antara Bantaeng, Bone, dan Gowa. Perjalanan tokoh tersebut membawa nama Bone hingga ke Bantaeng, sementara keputusan politik dan keagamaannya berada dalam konteks hubungan antarkerajaan di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17.

Pemerintah Kabupaten Bantaeng turut memasukkan Makam Raja La Tenri Ruwa dalam kawasan peruntukan pariwisata budaya daerah. Situs itu tercatat bersama sejumlah peninggalan sejarah lainnya di Kecamatan Bantaeng.

Hari ini, nama La Tenri Ruwa tidak hanya hidup dalam catatan sejarah Kerajaan Bone. Di Bantaeng, jejaknya masih berada dalam sebuah kompleks makam yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Di tempat itulah gelar Matinroe ri Bantaeng menemukan maknanya: seorang raja Bone yang perjalanan hidupnya berakhir di tanah Bantaeng.(*)