SOPPENG, KATASULSEL.COM — Setelah sekitar lima bulan dilanda kekeringan, hujan akhirnya membasahi sejumlah wilayah di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Bagi warga yang selama ini bergulat dengan sulitnya air bersih dan tanah yang mulai retak, hujan sore itu terasa seperti kabar baik yang lama dinantikan.
Namun, suasana berbeda masih dirasakan warga Kabupaten Sidrap. Cuaca panas masih terasa ekstrem pada siang hari. Harapan akan turunnya hujan mulai muncul setelah cuaca dalam dua hari terakhir terasa sedikit lebih bersahabat pada sore hari. Bahkan, pada Rabu malam, 7 Oktober 2026, langit sempat menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan hujan.
Hujan yang benar-benar turun di Soppeng pun menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat di wilayah yang telah berbulan-bulan menghadapi kemarau.
Hujan mengguyur delapan desa di Kecamatan Donri-donri pada Kamis (8/10/2026), sekitar pukul 16.10 hingga 17.00 Wita. Artinya, hujan berlangsung sekitar 50 menit.
Warga menyambutnya dengan penuh rasa syukur. Setelah sekian lama menunggu, air hujan akhirnya kembali membasahi tanah yang sebelumnya kering.
“Alhamdulillah, hujan mi di Kecamatan Donri-donri,” ujar Rifai, warga Desa Donri-donri.
Tanah retak, air bersih semakin sulit
Hujan yang turun di Donri-donri bukan sekadar perubahan cuaca biasa bagi warga setempat. Kemarau panjang sebelumnya telah menimbulkan dampak nyata, mulai dari tanah yang retak hingga sulitnya memperoleh pasokan air bersih.
Rifai mengatakan, kekeringan di wilayahnya sudah cukup parah. Bahkan, retakan tanah mulai terlihat di sejumlah lokasi, termasuk di pinggir jalan.
Menurut ingatannya, hujan terakhir yang cukup berarti terjadi sekitar April 2026.
“Parah kekeringan di Donri-donri. Tanah sudah mulai retak, bahkan ada retakan di pinggir jalan. Seingat saya, terakhir hujan itu sekitar April,” tuturnya.
Hujan deras dilaporkan mengguyur Desa Pising, Donri-donri, Labokong, dan Sering. Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan terjadi di Desa Lalabata Riaja, Tottong, Leworeng, dan Kessing.
Meski baru berlangsung sekitar 50 menit, turunnya hujan membawa harapan bagi masyarakat. Warga berharap hujan tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, melainkan menjadi awal membaiknya kondisi lingkungan dan ketersediaan air.
“Begitu hujan turun, rasanya seperti mendapat rezeki dari Allah. Mudah-mudahan ini menjadi berkah dan sawah-sawah kembali bisa digarap,” kata Rifai.
Dampak kekeringan memang tidak hanya dirasakan dalam urusan kebutuhan rumah tangga. Sektor pertanian juga ikut terdampak karena ketersediaan air menjadi salah satu penentu aktivitas pengolahan lahan.
Sidrap masih menunggu hujan
Sementara Soppeng mulai merasakan guyuran hujan, kondisi di Kabupaten Sidrap masih menyisakan pekerjaan rumah bagi warga yang menghadapi cuaca panas berkepanjangan.
Pada siang hari, panas masih terasa menyengat. Aktivitas di luar ruangan pun dapat menjadi lebih berat ketika suhu terasa tinggi.
Meski demikian, dalam dua hari terakhir, perubahan suasana mulai terasa pada sore hari. Cuaca yang sebelumnya panas menyengat perlahan terasa lebih bersahabat. Pada Rabu malam, sejumlah tanda di langit bahkan sempat memunculkan harapan akan turunnya hujan.
Namun, hingga Kamis (8/10/2026), tanda-tanda tersebut belum bisa dianggap sebagai kepastian bahwa hujan akan segera mengguyur Sidrap.
Bagi masyarakat yang menghadapi kekeringan, perubahan cuaca sekecil apa pun dapat memunculkan harapan. Apalagi, wilayah yang bergantung pada sektor pertanian membutuhkan ketersediaan air untuk menjaga keberlangsungan kegiatan di sawah.
Pengalaman warga Donri-donri memperlihatkan betapa berharganya hujan setelah berbulan-bulan kemarau. Akan tetapi, hujan di Soppeng tidak serta-merta berarti kekeringan di Sidrap akan segera berakhir. Kondisi cuaca dan ketersediaan air di setiap wilayah bisa berbeda.
Ketika hujan menjadi kabar yang paling ditunggu
Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya berarti perubahan cuaca. Namun, bagi warga yang berbulan-bulan kesulitan mendapatkan air, hujan bisa berarti lebih dari itu.
Ada tanah yang kembali basah. Ada harapan agar sumber air kembali terisi. Ada pula petani yang menunggu kesempatan untuk kembali mengolah sawah.
Di Soppeng, hujan selama sekitar 50 menit telah menghadirkan optimisme baru. Di Sidrap, masyarakat masih menunggu apakah langit yang mulai bersahabat pada sore hari akan benar-benar menurunkan hujan.
Kini, harapan warga sederhana: kemarau segera mereda, pasokan air kembali membaik, dan lahan pertanian bisa kembali produktif.
Sebab, setelah berbulan-bulan berhadapan dengan tanah kering dan panas yang menyengat, setetes hujan pun terasa begitu berarti. (*)
