Sidrap, Katasulsel.com – Setiap tahun, masyarakat Towani Tolotang di Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), berkumpul di Perrinyameng. Mereka datang untuk menjalankan tradisi yang diwariskan leluhur, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan di antara sesama anggota komunitas.
Tradisi tersebut dikenal sebagai upacara tahunan Towani Tolotang. Salah satu tujuannya adalah menziarahi leluhur bernama I Pabbere, sebagaimana amanah yang diwariskan kepada generasi penerus.
Penelitian Muh Taufik dan Rahmawati Hariza yang diterbitkan dalam SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah pada November 2023 mencatat, upacara ini dilaksanakan sekali dalam setahun. Rangkaian kegiatannya mencakup Mappenre Inanre, Tudang Sipulung, dan Sipulung sebagai bagian dari ritual masyarakat Towani Tolotang.
Ketiga kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri dalam kehidupan komunitas. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ritual kepercayaan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan menjaga hubungan antargenerasi.
Di dalamnya terdapat nilai Mali Siparappe, yang bermakna saling menolong; Malilu Sipakainge, yakni saling mengingatkan; serta Sipakatau dan Sipakalebbi, yang menekankan pentingnya memanusiakan dan saling menghargai.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam semangat gotong royong, kekeluargaan, dan solidaritas yang menyertai kehidupan masyarakat Towani Tolotang.
Kajian Hadawiah, Syamsidar, dan Zelfia yang dipublikasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial pada 2025 juga mengulas komunikasi budaya dalam ritual Towani Tolotang di Amparita. Penelitian itu menyoroti bagaimana kegiatan seperti Sipulung, Mappenre Inanre, dan Tudang Sipulung menjadi bagian dari pembentukan ikatan sosial serta kebersamaan komunitas.
Aspek lain yang menarik ialah hubungan masyarakat Towani Tolotang dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Penelitian Taufik dan Hariza mencatat nilai saling menghargai dan toleransi antarumat beragama sebagai bagian dari kehidupan komunitas tersebut.
Keberadaan tradisi di Perrinyameng memperlihatkan bahwa warisan leluhur tidak hanya dipertahankan melalui cerita dan ingatan. Ia juga hidup melalui pertemuan tahunan, hubungan kekerabatan, dan nilai-nilai yang terus dipraktikkan oleh masyarakat Amparita.


