Sidrap, Katasulsel.com – Tidak semua daerah memiliki kuliner berbahan burung belibis. Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, unggas yang sekilas menyerupai bebek itu justru dikenal sebagai salah satu bahan makanan khas. Masyarakat Bugis menyebutnya cawiwi.
Cawiwi umumnya diolah dengan cara digoreng dan disajikan bersama sambal. Sekilas, hidangan ini mungkin tampak seperti sajian unggas pada umumnya. Namun, bahan utamanya membuat cawiwi memiliki cerita tersendiri dalam khazanah kuliner lokal Sidrap.
Belibis merupakan kelompok burung air yang hidup di sekitar perairan, rawa, dan kawasan bervegetasi. Dalam penelitian berjudul Kualitas Daging Belibis Batu (Dendrocygna javanica) Berdasarkan Jenis Kelamin yang Berbeda, Relli dari Universitas Hasanuddin (2021) mencatat bahwa daging belibis telah lama dikonsumsi masyarakat Sidrap dan diolah menjadi beragam hidangan, termasuk belibis goreng dan belibis bakar.
Penelitian tersebut juga menggunakan 20 ekor belibis batu yang diperoleh dari penjual di Kabupaten Sidrap sebagai sampel penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa cawiwi bukan sekadar nama hidangan yang beredar dalam cerita kuliner daerah, tetapi juga pernah menjadi objek kajian akademik. (Repository Universitas Hasanuddin)
Di balik keunikan rasanya, ada hal yang menarik untuk ditelusuri: dari mana belibis yang menjadi bahan baku cawiwi diperoleh?
Dalam bagian pendahuluannya, penelitian Relli pada 2021 menyebutkan bahwa belibis yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan saat itu belum dibudidayakan secara luas. Penelitian tersebut mengaitkan ketersediaannya dengan keberadaan kawanan belibis yang singgah di wilayah Sidrap dalam proses migrasi alami.
Catatan tersebut memberi gambaran tentang hubungan antara kebiasaan konsumsi masyarakat dan keberadaan satwa di lingkungan sekitarnya. Namun, informasi itu merupakan gambaran berdasarkan penelitian pada 2021. Kondisi pasokan belibis untuk kebutuhan kuliner saat ini masih memerlukan penelusuran lebih lanjut kepada pedagang, pemasok, serta instansi yang berwenang.
Pertanyaan mengenai asal bahan baku menjadi penting karena belibis merupakan satwa liar. Pemanfaatannya sebagai bahan pangan tidak dapat dilepaskan dari persoalan ketersediaan populasi dan ketentuan perlindungan satwa. Karena itu, popularitas sebuah kuliner lokal juga perlu dibarengi perhatian terhadap cara bahan bakunya diperoleh.
Di sisi lain, cawiwi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan kebiasaan masyarakat dapat membentuk identitas kuliner suatu daerah. Kekhasan makanan tidak selalu lahir dari racikan bumbu yang rumit. Terkadang, justru bahan yang digunakan dan cerita di baliknya menjadi pembeda.
Bagi Sidrap, cawiwi menyimpan dua cerita sekaligus: tradisi mengolah belibis menjadi hidangan dan pertanyaan tentang keberlanjutan bahan bakunya. Keduanya membuat kuliner ini layak dikenal lebih jauh, bukan hanya sebagai sajian yang mengundang rasa penasaran, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.


