Sidrap, Katasulsel.com — Lebih dari empat abad lalu, warga Sidenreng menjalankan ibadah di rumah masing-masing. Belum ada masjid yang menjadi pusat kegiatan umat. Situasi itu berubah ketika sebuah masjid dibangun di Allakuang pada 1609.

Masjid Tua Jerrae Allakuang kini berdiri sebagai salah satu jejak awal perkembangan Islam di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Bangunan ini bukan hanya tempat salat, tetapi juga menyimpan cerita tentang kerajaan, ulama, dan masyarakat yang membangun kehidupan keagamaan bersama.

Dibangun saat Islam berkembang di Sidenreng

Masjid Tua Jerrae didirikan pada masa pemerintahan Addatuang Sidenreng La Patiroi. Pembangunannya melibatkan Nene’ Mallomo, penasihat kerajaan yang dikenal sebagai tokoh hukum dan pemerintahan, serta Syekh Bojo atau Syekh Abdul Rahman, ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Sidenreng.

Menurut catatan sejarah yang dihimpun UIN Alauddin Makassar, masjid ini dibangun pada 1609, ketika Islam mulai berkembang di lingkungan Kerajaan Sidenreng. Pendirian masjid menjadi langkah penting untuk menyediakan tempat ibadah sekaligus memperluas pengajaran agama.

Pada masa awalnya, masjid menjadi pusat kegiatan umat. Selain salat, masyarakat berkumpul untuk belajar agama dan mengikuti kegiatan sosial keagamaan. Peran itu menjadikan Masjid Jerrae bagian dari perkembangan kehidupan Islam di wilayah Ajatappareng.

Nama Jerrae dan kawasan makam

Masjid ini berada di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, dalam kawasan yang juga memiliki makam-makam tua. Salah satu penjelasan tentang nama “Jerrae” mengaitkannya dengan kata dalam bahasa Bugis lama yang berarti kuburan lama.

Namun, terdapat pula versi lain mengenai asal-usul nama tersebut. Karena itu, penamaan Jerrae masih perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah lokal yang memiliki lebih dari satu penuturan.

Kedekatan masjid dengan makam dan peninggalan sejarah di sekitarnya memperlihatkan bahwa kawasan Allakuang menyimpan lapisan sejarah yang lebih luas daripada satu bangunan saja.

Warisan yang terus digunakan

Masjid Tua Jerrae telah mengalami beberapa kali renovasi. Menurut catatan UIN Alauddin Makassar, renovasi dilakukan dengan upaya mempertahankan bentuk bangunan sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya.

Hingga kini, masjid tersebut tetap digunakan untuk kegiatan ibadah dan dikunjungi masyarakat yang ingin mengenal sejarah Islam di Sidrap. Pada Juni 2026, mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar juga melakukan kunjungan studi lapangan untuk mengamati nilai arkeologis dan historis masjid.

Di Allakuang, waktu tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah. Ia hadir pada bangunan yang terus digunakan, pada makam-makam di sekitarnya, dan pada orang-orang yang datang untuk beribadah atau menelusuri kisah masa lalu.

Empat abad telah berlalu sejak masjid itu dibangun. Namun, pintunya masih terbuka, dan orang-orang masih datang dengan tujuan yang berbeda: berdoa, belajar, atau mencari tahu bagaimana sebuah masjid pernah membantu membentuk kehidupan masyarakat Sidrap.(*)