Sidrap, Katasulsel.com — Tak ada panggung megah. Tak ada alat musik modern. Hanya lesung kayu, alu yang beradu, dan sekelompok warga yang bergerak mengikuti irama. Bunyi tumbukan itu mula-mula terdengar sederhana, lalu berubah menjadi tabuhan yang menghidupkan suasana.
Begitulah Mappadendang, tradisi masyarakat Bugis yang mengiringi rasa syukur setelah panen. Di sejumlah wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), lesung yang dahulu digunakan untuk menumbuk padi menjadi pusat perayaan. Warga berkumpul, menyaksikan, dan ikut larut dalam irama yang lahir dari kerja bersama.
Alu bergerak, irama tercipta
Mappadendang menggunakan lesung kayu panjang yang disebut palungeng dan alu sebagai alat penumbuk. Para perempuan menumbuk padi secara berirama, sementara laki-laki mengatur tempo dan gerakan di sekitar lesung.
Catatan Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut susunan pertunjukan tradisional dapat melibatkan enam perempuan dan tiga laki-laki. Perempuan yang menumbuk disebut pakkindona, sedangkan laki-laki yang menari dan mengatur bagian ujung lesung disebut pakkambona.
Setiap ayunan alu harus mengikuti ritme. Terlalu cepat, irama bisa berantakan. Terlalu lambat, tabuhan kehilangan tenaga. Para penumbuk menjaga gerak dan tempo agar alu tidak saling berbenturan.
Dari pekerjaan menumbuk padi, lahirlah pertunjukan yang memadukan ketepatan gerak, bunyi, dan kebersamaan.
Perayaan setelah kerja panjang di sawah
Mappadendang biasanya digelar setelah panen raya. Warga merayakan hasil kerja selama musim tanam sekaligus berkumpul bersama keluarga dan tetangga.
Penelitian tentang Mappadendang masyarakat Bugis Tolotang yang terbit dalam Journal of Music Science, Technology, and Industry pada 2024 mencatat bahwa tradisi ini juga menjadi ruang silaturahmi. Dalam suasana perayaan, kaum muda berkesempatan saling mengenal, sementara generasi yang lebih tua meneruskan pengetahuan budaya.
Pelaksanaan Mappadendang dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Waktu, susunan pemain, dan rangkaian kegiatan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.
Lesung yang tetap ditabuh
Mesin penggilingan kini mengambil alih sebagian besar pekerjaan menumbuk padi. Namun, lesung dan alu belum sepenuhnya kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat.
Pada September 2026, warga Desa Padangloang Alau, Kecamatan Dua Pitue, menggelar pesta panen Mappadendang. Tradisi itu menjadi bagian dari perayaan hasil pertanian dan kebersamaan warga.
Saat alu kembali diangkat dan lesung mulai ditabuh, warga merapat mengelilingi palungeng. Satu tumbukan disusul tumbukan berikutnya. Irama semakin ramai, gerak para penumbuk semakin lincah, dan malam panen pun kembali memiliki bunyinya sendiri.


