Bulukumba, Katasulsel.com — Kain tenun Kajang dikenal dengan warna hitam pekat yang sekilas tampak sederhana. Namun, warna itu bukan sekadar pilihan estetika. Bagi masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, hitam berkaitan dengan kesederhanaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap adat.

Kain yang dikenal dengan nama Tope Le’leng ini dibuat secara tradisional oleh perempuan Kajang. Prosesnya mengandalkan keterampilan menenun yang diwariskan dalam keluarga serta bahan pewarna alami dari lingkungan sekitar.

Warna hitam dari bahan alami

Warna khas Tope Le’leng berasal dari proses pewarnaan benang menggunakan daun tarum atau indigo. Dalam proses tradisional, benang direndam dalam larutan pewarna alami yang dicampur bahan seperti kapur dan abu kayu.

Hasilnya bukan hitam datar, melainkan warna gelap kebiruan yang menjadi ciri kain tenun Kajang. Sejumlah kain juga memiliki garis-garis vertikal dengan warna berbeda, tetapi motifnya tetap sederhana.

Ditelusuri dari benang hingga kain

Pembuatan Tope Le’leng melewati beberapa tahap. Setelah benang diwarnai, penenun menyusun benang lungsi, menyiapkan benang pakan, lalu mulai menenun menggunakan alat tradisional.

Setelah kain selesai ditenun, perajin melakukan tahap maggarusu’, yakni menggosok permukaan kain menggunakan cangkang kerang atau keong hingga mengilap. Tahap ini menjadi salah satu ciri khas pengolahan kain Kajang.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pangadereng pada 2024 mencatat bahwa keterampilan membuat Tope Le’leng diwariskan dari orang tua kepada anak. Proses belajar dimulai dengan mengenalkan bagian-bagian alat tenun dan fungsinya, kemudian dilanjutkan dengan praktik secara bertahap.

Kesederhanaan yang menjadi identitas

Dalam kebudayaan Kajang, warna hitam melambangkan kesederhanaan dan kesetaraan. Tidak ada hitam yang dianggap lebih tinggi daripada hitam lainnya. Filosofi ini sejalan dengan prinsip hidup kamase-masea, yaitu menjalani kehidupan secara sederhana.

Tope Le’leng juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat. Kain ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Kajang sekaligus menunjukkan hubungan erat antara tradisi, keterampilan perempuan, dan alam.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan tenun Kajang memperlihatkan bahwa sebuah kain dapat menyimpan lebih dari fungsi pakaian. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang bahan alam, teknik produksi, dan nilai hidup yang terus diwariskan.