Enrekang, Katasulsel.com — Sebelum menjadi gula merah yang dijual di pasar, nira aren harus melewati proses panjang. Petani menyadap cairan dari pohon enau, menyaringnya, lalu memasaknya berjam-jam hingga mengental dan siap dicetak.

Di Kabupaten Enrekang, pengolahan nira menjadi gula aren masih menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat. Desa Tallung Ura, Kecamatan Curio, misalnya, memasarkan gula merah aren yang diproduksi masyarakat setempat. Sementara itu, masyarakat Desa Mangkawani juga mengolah nira menjadi gula merah cetak dan gula semut.

Menyadap nira membutuhkan ketelatenan

Bahan utama gula aren adalah nira, cairan manis yang diperoleh dengan menyadap tandan bunga pohon aren. Sebelum penyadapan, petani biasanya mempersiapkan tandan agar nira dapat keluar dengan baik.

Nira yang terkumpul kemudian disaring untuk memisahkan kotoran. Tahap ini penting karena bahan baku harus bersih sebelum dimasak.

Nira segar juga perlu segera diolah. Jika terlalu lama dibiarkan, kualitasnya dapat berubah akibat proses fermentasi.

Dimasak hingga mengental

Setelah disaring, nira dimasukkan ke dalam wajan besar dan dimasak di atas tungku. Selama pemanasan, perajin mengaduknya agar tidak gosong.

Proses memasak berlangsung selama beberapa jam. Air dalam nira perlahan menguap, sementara cairannya berubah warna dan semakin kental. Pemasakan dihentikan ketika adonan mencapai kekentalan yang sesuai untuk dicetak.

Tahap ini menentukan hasil akhir gula aren. Pengaturan api dan ketelatenan saat memasak berpengaruh terhadap warna, tekstur, dan rasa produk.

Dari cetakan ke pasar

Adonan gula yang telah mengental dituangkan ke dalam cetakan, yang dapat dibuat dari tempurung kelapa atau bahan lain. Setelah dingin dan mengeras, gula dikeluarkan dari cetakan lalu dikemas.

Selain gula merah cetak, nira aren juga dapat diolah menjadi gula semut, yaitu gula aren berbentuk butiran. Di Desa Mangkawani, produksi gula semut dikembangkan bersama kelompok petani perempuan melalui pendampingan pengolahan, pengeringan, dan pengemasan.

Pengolahan gula aren memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang tanaman dan proses pangan diwariskan sekaligus menjadi sumber penghasilan masyarakat. Di Enrekang, produk ini bukan sekadar pemanis, tetapi juga hasil kerja yang menghubungkan kebun, dapur produksi, dan pasar.