Enrekang, Katasulsel.com — Sebelum aroma kopi Kalosi memenuhi cangkir, ada perjalanan panjang yang dimulai dari kebun-kebun di dataran tinggi Enrekang. Petani merawat pohon, memetik buah yang matang, lalu mengolah biji yang kelak membawa nama daerah mereka ke pasar yang lebih luas.

Kalosi bukan sekadar nama kopi. Nama ini melekat pada wilayah, tradisi perdagangan, dan kerja petani yang menjaga kualitas arabika Enrekang dari musim ke musim.

Dari pasar Kalosi ke nama kopi

Kalosi dikenal sebagai kota pasar tempat petani dari wilayah sekitar membawa hasil panen. Kopi arabika yang diperdagangkan di sana kemudian dikenal dengan nama Kopi Kalosi.

Seiring waktu, nama itu semakin lekat dengan kopi arabika Enrekang. Namun, reputasinya juga menghadapi tantangan. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) mencatat, praktik pencampuran kopi dari luar daerah pernah merusak reputasi Kopi Kalosi.

Untuk menjaga keaslian dan nama produk, petani membentuk Masyarakat Perlindungan Kopi Enrekang (MPKE). Kopi Arabika Kalosi Enrekang kemudian terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis pada 15 Februari 2013. Perlindungan ini menghubungkan nama kopi dengan wilayah asal dan karakteristik yang perlu dijaga.

Pada Juni 2026, DJKI melakukan monitoring dan evaluasi terhadap MPKE di Dinas Pertanian Enrekang. Kegiatan tersebut mencakup upaya menjaga karakteristik, kualitas, dan reputasi kopi, sekaligus keberlangsungan organisasi pelindungnya.

Merawat kualitas dari kebun

Kopi arabika Enrekang tumbuh di dataran tinggi dengan kondisi alam yang membentuk karakter bijinya. Namun, mutu kopi tidak hanya bergantung pada tempat tumbuh. Cara petani memanen, mengolah, dan menyimpan biji juga menentukan kualitas yang sampai kepada pembeli.

Pembina MPKE, Sutarjo Barrang, menyatakan praktik pencampuran kopi dari luar daerah tidak lagi ditemukan setelah MPKE terbentuk dan Indikasi Geografis terdaftar. Ia berharap identitas Kopi Kalosi atau Kopi Arabika Enrekang terus dijaga agar manfaat ekonominya kembali kepada petani.

Bagi petani, menjaga nama Kalosi berarti menjaga kepercayaan pembeli. Setiap biji yang dipanen membawa identitas kebun dan daerah asalnya.

Perjalanan yang dimulai dari kebun

Pagi belum sepenuhnya terang ketika petani kembali menyusuri kebun di lereng Enrekang. Di antara daun-daun kopi, buah merah menunggu dipetik. Sebagian akan dibawa ke tempat pengolahan, sebagian lagi menempuh perjalanan panjang menuju cangkir-cangkir yang tak pernah mengenal wajah penanamnya.

Di cangkir itu, nama Kalosi mungkin hanya terbaca sekilas. Namun, di Enrekang, nama tersebut terus dijaga oleh tangan-tangan yang setiap musim kembali ke kebun.