Makassar, Katasulsel.com — Di Makassar, perjalanan tak selalu dimulai dengan memesan kendaraan lewat aplikasi. Di sejumlah ruas jalan, pete-pete masih menunggu penumpang di tepi jalan, membuka pintu, lalu melanjutkan perjalanan mengikuti trayeknya.

Angkutan kota berwarna biru ini telah melewati perubahan besar dalam cara warga bepergian. Namun, keberadaannya belum sepenuhnya tergantikan. Pete-pete masih menjadi bagian dari mobilitas kota, sekaligus menghadapi pertanyaan tentang masa depannya.

Tumbuh bersama perubahan Makassar

Pete-pete telah menjadi bagian dari kehidupan Makassar sejak dekade 1980-an. Penelitian sejarah Universitas Hasanuddin mencatat, pada masa awal, sejumlah warga memodifikasi mobil pribadi untuk mengangkut penumpang. Pemerintah mulai menata operasional pete-pete pada 1990, seiring munculnya model kendaraan yang dikenal sebagai pete-pete kapsul.

Sejak itu, pete-pete berkembang menjadi bagian dari jaringan angkutan kota yang menghubungkan berbagai kawasan Makassar. Kendaraan ini ikut membentuk pengalaman mobilitas warga selama beberapa dekade.

Ketika kota berkembang, kebutuhan ikut berubah

Pertumbuhan Makassar membawa kebutuhan perjalanan baru. Kawasan permukiman dan pusat kegiatan berkembang, tetapi layanan angkutan umum tidak selalu menjangkau seluruh wilayah.

Penelitian dalam Jurnal TESLINK pada 2024 menemukan bahwa sejumlah kawasan dan ruas jalan dalam wilayah kajiannya belum terlayani angkutan kota. Temuan tersebut memperlihatkan tantangan dalam menyesuaikan jaringan transportasi dengan perkembangan ruang kota.

Ketika rute tidak menjangkau tempat warga tinggal atau beraktivitas, angkutan umum sulit menjadi pilihan utama. Persoalan pete-pete bukan hanya persaingan dengan moda transportasi lain, tetapi juga apakah layanannya sesuai dengan kebutuhan perjalanan warga.

Angkutan yang menyimpan kehidupan kota

Pete-pete bukan sekadar kendaraan yang membawa penumpang dari satu titik ke titik lain. Di dalamnya, warga berbagi ruang selama perjalanan menuju tujuan masing-masing.

Kajian Syamsul Asri tentang pete-pete dan kualitas ruang publik Makassar menempatkan angkutan ini sebagai bagian dari pengalaman masyarakat menggunakan ruang kota. Pete-pete mempertemukan orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, tetapi memiliki kebutuhan perjalanan yang sama.

Agar tetap relevan, pete-pete perlu menjawab kebutuhan warga masa kini melalui rute yang sesuai, layanan yang aman, dan perjalanan yang dapat diandalkan. Penelitian Universitas Hasanuddin pada 2024 juga mengkaji potensinya sebagai angkutan pengumpan bagi layanan angkutan massal di kawasan suburban Makassar.

Pete-pete masih melintasi jalan-jalan kota, melewati bangunan lama dan kawasan yang terus tumbuh. Di balik setiap perjalanan, ada warga yang perlu sampai ke tujuan dan pengemudi yang menggantungkan penghasilan pada jalan yang sama.

Makassar terus berubah. Pete-pete pun menghadapi pilihan: menyesuaikan diri dengan kebutuhan kota, atau perlahan kehilangan tempat dalam perjalanan warganya.