Sidrap, katasulsel.com – Bagi petani di Kecamatan Panca Lautang, hujan selama ini bukan sekadar berkah, tetapi juga penentu nasib tanaman di sawah. Ketika musim kemarau datang, ketersediaan air menjadi persoalan. Kini, harapan agar sawah lebih terjamin pengairannya mulai terbuka melalui pembangunan Bendung Torere di Desa Corawali.

Bendung yang telah lama diperjuangkan itu akhirnya mulai dikerjakan. Kehadirannya diproyeksikan memberi manfaat bagi sekitar 1.200 hektare lahan persawahan di wilayah tersebut, terutama sawah yang selama ini masih mengandalkan air hujan.

Bagi Sidrap yang dikenal sebagai salah satu daerah andalan pertanian di Sulawesi Selatan, pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ada harapan besar agar petani bisa mengatur musim tanam dengan lebih baik, meningkatkan produksi, dan memperoleh pendapatan yang lebih menjanjikan.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif turun langsung meninjau progres pembangunan Bendung Torere, Sabtu (31/10/2026). Ia didampingi Kepala Dinas Biciptapera Abdul Rasyid, Kepala Dinas PSDA Andi Safari Renata, serta Kepala Bapperida Herwin.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan sekaligus melihat langsung perkembangan pembangunan di lapangan.

Syaharuddin mengungkapkan, Bendung Torere merupakan proyek yang sudah lama diperjuangkan. Namun, sejumlah kendala membuat pembangunannya belum bisa direalisasikan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Bendung Torere ini sudah lama kita perjuangkan untuk dibangun. Ada beberapa kendala yang sebelumnya harus diselesaikan. Alhamdulillah, tahun ini sudah mulai dikerjakan,” ujarnya.

Menurut Syaharuddin, manfaat terbesar bendung ini nantinya akan dirasakan petani. Ketersediaan air diharapkan membuat lahan yang sebelumnya bergantung pada hujan menjadi lebih produktif.

“Kalau air sudah tersedia, sawah yang selama ini tadah hujan bisa kita dorong menjadi lebih produktif. Sekitar 1.200 hektare lahan akan mendapatkan manfaat dari bendung ini,” katanya.

Pemerintah daerah berharap keberadaan Bendung Torere membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam. Dengan pengairan yang lebih terjamin, sawah di Panca Lautang diharapkan tidak lagi terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

Syaharuddin menegaskan, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya pada rampungnya pekerjaan fisik, melainkan sejauh mana infrastruktur itu membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat.

“Target kita bukan hanya membangun bendung. Kita ingin bagaimana petani bisa menanam lebih sering, produksi meningkat, pendapatan meningkat, dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” tegasnya.

Ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat menjaga kualitas pekerjaan. Bendung tersebut diharapkan dapat berfungsi optimal dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Ini investasi untuk petani kita. Karena itu, kualitas pekerjaan harus kita jaga. Kita ingin bendung ini benar-benar berfungsi maksimal dan bisa dimanfaatkan masyarakat dalam waktu yang panjang,” ujarnya.

Kini, masyarakat Panca Lautang menaruh harapan pada pembangunan Bendung Torere. Jika kelak aliran air benar-benar menjangkau lahan pertanian sesuai sasaran, sekitar 1.200 hektare sawah berpeluang mendapatkan kepastian pengairan yang lebih baik.

Sebab, bagi petani, bendung bukan hanya bangunan penahan air. Di dalamnya ada harapan agar musim tanam lebih teratur, panen lebih terjamin, dan sawah tetap produktif meski hujan tak kunjung turun (*)