Sidrap, Katasulsel.com – Di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), terdapat sebuah sumur tua yang menyimpan cerita tentang tokoh legendaris Nene Mallomo. Namanya Bungnge Citta’.

Berbeda dari sumur pada umumnya, Bungnge Citta’ bukan hanya dikenal sebagai sumber air bagi masyarakat. Keberadaannya juga lekat dengan cerita turun-temurun tentang Nene Mallomo, sosok yang dikenal dalam sejarah Sidrap karena kecerdasan dan keteguhannya dalam menegakkan aturan.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, sumur tersebut dipercaya muncul setelah Nene Mallomo menghentakkan kakinya ke tanah ketika melihat warga Allakuang kesulitan mendapatkan air. Dari bekas hentakan itu, konon muncul sumber mata air yang kemudian dimanfaatkan masyarakat.

Kisah tersebut tercatat dalam penelitian akademik mengenai nilai-nilai Islam dalam falsafah hidup masyarakat Sidrap. Penelitian itu menyebut Bungnge Citta’ sebagai salah satu sumber air yang digunakan warga Allakuang untuk kebutuhan sehari-hari.

Dari Sumber Air Menjadi Situs Bersejarah

Bungnge Citta’ berada di kawasan permukiman Desa Allakuang. Letaknya tidak jauh dari Masjid Kuno Jerra’e, salah satu situs sejarah penting di Sidrap.

Dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Sidrap memasukkan Bungnge Citta’ sebagai salah satu sumur kuno yang menjadi bagian dari potensi situs sejarah dan budaya daerah.

Keberadaan sumur tersebut juga pernah mendapat perhatian dalam pemberitaan media lokal. Pada 2018, warga setempat menyebut air Bungnge Citta’ tidak pernah surut meskipun kondisi musim berubah.

Keterangan tersebut menjadi bagian dari cerita masyarakat mengenai keberadaan sumber air yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun. Namun, untuk memastikan kondisi debit dan kualitas airnya saat ini, diperlukan pemeriksaan langsung.

Kepercayaan yang Hidup di Tengah Masyarakat

Bungnge Citta’ juga menyimpan sejumlah kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Penelitian akademik mengenai falsafah hidup masyarakat Sidrap mencatat adanya kepercayaan bahwa air dari sumur tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan tradisional hingga perlengkapan dalam menjalani aktivitas tertentu.

Sebagian masyarakat juga memiliki kebiasaan melemparkan uang logam ke dalam sumur sambil menyampaikan permohonan. Praktik tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang berkembang di lingkungan masyarakat, bukan bukti bahwa air sumur dapat mengabulkan permintaan.

Penelitian itu turut mencatat keterkaitan Bungnge Citta’ dengan kehidupan masyarakat Towani To Lotang. Airnya disebut pernah digunakan dalam sejumlah praktik tradisi masyarakat setempat.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah sumber air dapat memiliki makna yang lebih luas daripada fungsi praktisnya. Bungnge Citta’ menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan hidup, ingatan sejarah, dan kepercayaan masyarakat.

Warisan yang Perlu Dijaga

Keberadaan Bungnge Citta’ memperlihatkan kekayaan sejarah lokal yang masih dapat ditelusuri di Allakuang. Kawasan ini tidak hanya menyimpan sumur tua, tetapi juga memiliki Masjid Kuno Jerra’e dan makam Nene Mallomo.

Ketiga situs tersebut membentuk jejak sejarah yang saling berdekatan. Karena itu, keberadaan Bungnge Citta’ tidak cukup hanya dikenalkan sebagai objek wisata, tetapi juga perlu dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sidrap sendiri memasukkan Bungnge Citta’ dalam daftar potensi wisata daerah. Namun, dokumen perencanaan pemerintah juga pernah mencatat perlunya perhatian lebih serius terhadap pemeliharaan sejumlah objek wisata sejarah, termasuk sumur tua tersebut.

Di Allakuang, air yang keluar dari sebuah sumur telah melahirkan cerita yang diwariskan lintas generasi. Orang-orang mengenalnya melalui kisah Nene Mallomo, sementara masyarakat setempat mengingatnya sebagai sumber air yang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan mereka.

Bungnge Citta’ bukan hanya tentang bagaimana air muncul dari tanah. Di balik namanya, tersimpan ingatan masyarakat tentang seorang tokoh, sebuah kampung, dan sumber kehidupan yang terus diceritakan.