Pinrang, Katasulsel.com – Laut bukan sekadar tempat mencari ikan bagi masyarakat pesisir Desa Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang. Bagi sebagian warga, laut juga memiliki ikatan budaya yang diwariskan lintas generasi melalui tradisi Mappanre Tasi.
Tradisi ini tumbuh di tengah kehidupan masyarakat nelayan Ujung Lero. Mappanre Tasi dikenal sebagai salah satu kearifan lokal yang diperkenalkan oleh masyarakat Mandar yang lebih dahulu membuka permukiman di kawasan pesisir tersebut.
Penelitian Muhammad Nur dan Nasri yang diterbitkan dalam Jurnal Pusaka: Khazanah Keagamaan pada 2022 mencatat, Mappanre Tasi dilaksanakan setiap tahun pada April. Tradisi tersebut menjadi ungkapan harapan masyarakat nelayan agar memperoleh hasil tangkapan ikan yang lebih banyak pada masa mendatang.
Bagi masyarakat yang mempertahankannya, Mappanre Tasi bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi ini menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang kehidupan nelayan, hubungan antarkeluarga, serta warisan leluhur yang terus dijaga.
Namun, penerimaan terhadap tradisi tersebut tidak sepenuhnya seragam. Penelitian yang sama menemukan adanya pandangan berbeda di tengah masyarakat, termasuk dari sebagian tokoh yang mempertanyakan kesesuaiannya dengan ajaran Islam.
Perbedaan pandangan itu memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak selalu tumbuh tanpa perdebatan. Di Ujung Lero, Mappanre Tasi berada di antara upaya mempertahankan warisan budaya dan proses masyarakat menafsirkan kembali praktik leluhur dalam kehidupan beragama.
Penelitian tersebut juga melihat tradisi ini sebagai ruang yang berpotensi mempererat hubungan sosial masyarakat. Nilai kebersamaan dan penerimaan terhadap budaya lokal menjadi bagian penting dari kehidupan warga di kawasan pesisir.
Keberadaan Mappanre Tasi memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Pinrang tidak hanya tersimpan dalam benda peninggalan sejarah atau bangunan tua. Sebagian di antaranya hidup dalam praktik masyarakat sehari-hari, termasuk tradisi yang tumbuh dari hubungan panjang manusia dengan laut.

