Pinrang, Katasulsel.com – Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menyimpan tradisi penguburan yang memiliki kemiripan dengan budaya Toraja. Tradisi tersebut ditemukan di Desa Suppirang, Kecamatan Lembang, wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan sejumlah permukiman di kawasan Toraja dibandingkan dengan beberapa wilayah Bugis di Pinrang.
Penelitian Muhammad Agang dari Universitas Hasanuddin pada 2024 mengidentifikasi tiga bentuk penguburan dalam tradisi masyarakat adat Suppirang, yakni loβko, liang batu, dan patane. Penelitian itu menggunakan wawancara dan pendekatan etnografi untuk menelusuri bentuk penguburan serta pengaruh kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa batas administratif tidak selalu sejalan dengan batas kebudayaan. Masyarakat Suppirang memiliki kedekatan tradisi dengan masyarakat Toraja, termasuk dalam praktik penguburan dan pengenalan strata sosial.
Tiga Bentuk Penguburan di Suppirang
Dalam penelitian tersebut, loβko, liang batu, dan patane tercatat sebagai bentuk penguburan yang ditemukan di Suppirang. Ketiganya menjadi bagian penting untuk memahami tradisi megalitik masyarakat setempat.
Liang batu merujuk pada penguburan yang memanfaatkan batu atau ruang pada batu sebagai tempat pemakaman. Sementara itu, patane merupakan bentuk penguburan yang menurut penelitian masih digunakan masyarakat Suppirang.
Agang menjelaskan bahwa patane digunakan sebagai alternatif penguburan liang batu karena proses pembuatannya dinilai lebih mudah. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi penguburan dapat mengalami penyesuaian, meskipun masyarakat tetap mempertahankan unsur budaya yang diwariskan.
Penelitian ini juga menekankan adanya kemiripan bentuk penguburan Suppirang dengan tradisi masyarakat Toraja. Kesamaan tersebut menjadi petunjuk hubungan kebudayaan, bukan bukti bahwa seluruh praktik penguburan di kedua wilayah sepenuhnya sama.
Kedekatan Budaya yang Melintasi Batas Kabupaten
Desa Suppirang berada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Kawasan ini terletak di wilayah perbukitan yang berbatasan dengan daerah Sulawesi Barat dan memiliki hubungan geografis dengan kawasan budaya Toraja.
Dalam skripsinya, Agang menjelaskan bahwa kedekatan Suppirang dengan permukiman di Simbuang menjadi salah satu petunjuk untuk memahami hubungan budaya masyarakatnya. Penelitian itu menyebut masyarakat Suppirang masih memiliki keterkaitan rumpun budaya dengan masyarakat Toraja, meskipun secara administratif berada di Kabupaten Pinrang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya masyarakat tidak selalu terbentuk berdasarkan pembagian wilayah pemerintahan. Hubungan antarkelompok dapat berlangsung melalui kedekatan geografis, interaksi sosial, dan pewarisan kebiasaan dari generasi ke generasi.
Karena itu, tradisi penguburan di Suppirang menjadi salah satu pintu untuk memahami keragaman budaya di wilayah perbatasan Sulawesi Selatan.
Strata Sosial dalam Tradisi Penguburan
Penelitian Agang juga mencatat bahwa masyarakat Suppirang mengenal strata sosial yang berkaitan dengan penggunaan bentuk penguburan tertentu. Kategori yang disebut dalam penelitian meliputi Tanaβ Bassi, Tanaβ Karurung, dan Tanaβ Kua-Kua.
Temuan ini menunjukkan bahwa praktik penguburan tidak hanya berkaitan dengan cara memperlakukan orang yang meninggal, tetapi juga dapat berhubungan dengan kedudukan sosial dalam masyarakat.
Meski demikian, penerapan kategori tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks masyarakat Suppirang dan hasil penelitian yang bersangkutan. Praktik serta makna budaya di satu komunitas tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh masyarakat Pinrang maupun Toraja.
Penelitian ini menempatkan Suppirang sebagai wilayah yang memiliki karakter budaya tersendiri, sekaligus memperlihatkan hubungan kebudayaan dengan masyarakat di kawasan sekitarnya. (*)
