Oleh: Edy Basri
ADA yang menarik pada pagi peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Sidrap, Senin (17/8/2026).
Di antara deretan penghargaan yang dibagikan usai upacara, ada satu OPD yang berkali-kali dipanggil ke depan.
Dia adalah: Dinas Kesehatan Sidrap.
Sekali untuk menerima penghargaan sebagai Juara I Lomba Kebersihan dan Keindahan Kantor kategori Organisasi Perangkat Daerah.
Lalu dipanggil lagi untuk menerima sertifikat penghargaan atas kontribusinya dalam mengantarkan Kabupaten Sidenreng Rappang menjadi Terbaik I Sulawesi Selatan pada kategori penanggulangan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting.
Dua penghargaan.
Dalam satu pagi.
Dalam satu momentum.
Dan tentu saja, ini bukan perkara biasa.
Sebab penghargaan pertama berbicara tentang apa yang tampak oleh mata.
Halaman yang bersih.
Ruang kerja yang tertata.
Lingkungan kantor yang nyaman.
Sedangkan penghargaan kedua berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar.
Tentang bayi yang tumbuh sehat.
Tentang keluarga yang mendapat edukasi gizi.
Tentang angka stunting yang terus ditekan.
Tentang kualitas hidup masyarakat yang perlahan membaik.
Karena itu, dua penghargaan tersebut seperti dua wajah dari satu komitmen yang sama.
Menjaga kesehatan.
Membangun kehidupan yang lebih baik.
Ini jelas prestasi.
Ini membanggakan.
Bupati pasti senang.
Wakil Bupati pasti gembira.
Sebab setiap kepala daerah tentu ingin melihat kerja perangkatnya berbuah hasil.
Lebih membahagiakan lagi karena penghargaan itu tidak datang dari satu sektor semata.
Yang satu lahir dari budaya kerja internal yang disiplin.
Yang satu lahir dari pelayanan yang dirasakan langsung masyarakat.
Artinya, Dinas Kesehatan Sidrap tidak hanya berhasil menata rumahnya sendiri, tetapi juga berhasil hadir di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr. Ishak Kenre, SKM, M.Kes, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh tenaga kesehatan di Sidrap.
Mulai dari jajaran dinas, rumah sakit, puskesmas hingga tenaga kesehatan yang bertugas di desa-desa.
Menurutnya, kebersihan dan kesehatan memang tidak bisa dipisahkan.
“Dinas Kesehatan harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Sidrap Sehat dan Sidrap Bersih. Apa yang kami edukasikan kepada masyarakat harus terlebih dahulu menjadi budaya di lingkungan kerja kami,” ujarnya.
Budaya itu dibangun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana.
Ada gerakan 30 menit bersih sebelum aktivitas dimulai.
Ada gotong royong yang dilakukan rutin.
Ada kesadaran bahwa pelayanan kesehatan yang baik harus dimulai dari lingkungan kerja yang sehat.
Kelihatannya sederhana.
Namun justru dari kebiasaan sederhana itulah lahir prestasi besar.
Di sisi lain, keberhasilan Sidrap menjadi daerah terbaik dalam penanggulangan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting tentu bukan hasil kerja sehari dua hari.
Di balik penghargaan itu ada kerja panjang.
Ada petugas kesehatan yang mendatangi posyandu.
Ada pemantauan tumbuh kembang balita.
Ada edukasi untuk ibu hamil.
Ada kolaborasi lintas sektor yang berjalan tanpa banyak sorotan.
Maka ketika dua penghargaan itu diterima pada pagi kemerdekaan, sesungguhnya yang dirayakan bukan sekadar trofi dan sertifikat.
Yang dirayakan adalah konsistensi.
Yang dirayakan adalah kerja kolektif.
Yang dirayakan adalah hasil dari ribuan langkah kecil yang dilakukan setiap hari.
Bagi Dinas Kesehatan Sidrap, dua penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa jalan yang ditempuh selama ini berada di arah yang benar.
Bagi masyarakat Sidrap, penghargaan itu menjadi kabar baik bahwa pelayanan kesehatan terus bergerak maju.
Dan bagi pemerintah daerah, penghargaan itu adalah bukti bahwa kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan menemukan panggungnya sendiri.
Hari itu, Dinas Kesehatan Sidrap pulang membawa dua penghargaan.
Tetapi sesungguhnya, yang mereka bawa pulang lebih dari itu.
Mereka membawa pulang kebanggaan untuk seluruh Sidrap. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
