Jakarta, katasulsel.com – Ibu Kota kembali memanas. Gelombang demonstrasi dari berbagai kelompok masyarakat pecah secara bersamaan di sejumlah titik strategis Jakarta, Kamis. Massa mahasiswa, pengemudi ojek online (ojol), hingga warga terdampak konflik lahan turun ke jalan membawa tuntutan berbeda-beda, membuat pusat pemerintahan dan penegakan hukum menjadi sorotan.

Perhatian terbesar tertuju ke Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) di Jakarta Selatan. Massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Jaringan Intelektual Hukum Nasional (JIHN) menggelar aksi yang berlangsung berhari-hari. Mereka bahkan mendirikan tenda dan bertahan hingga malam sebagai bentuk tekanan kepada aparat penegak hukum.

Dalam aksinya, demonstran mendesak penuntasan sejumlah perkara hukum yang dianggap belum tuntas. Mereka juga menuntut transparansi penanganan barang bukti, percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, serta penindakan terhadap kasus-kasus korupsi besar yang menjadi perhatian publik.

Suasana sempat memanas ketika massa dan aparat terlibat aksi saling dorong di depan gerbang Kejagung. Sejumlah spanduk dibakar, disusul pembakaran ban bekas yang memunculkan kepulan asap tebal dan menarik perhatian pengguna jalan.

Tak hanya di Kejagung, gelombang aksi juga mengguncang kawasan Gedung DPR/MPR RI dan Gambir, Jakarta Pusat.

Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Jakarta Selatan turun ke jalan menyuarakan berbagai isu nasional. Sejumlah organisasi mahasiswa seperti HMI, PMII, GMNI, IMM, KAMMI, PMKRI, dan LMND tampak ikut dalam barisan massa yang bergerak menuju pusat pemerintahan.

Di depan Gedung DPR/MPR RI, kelompok pengemudi ojek online yang tergabung dalam DPP Go Graber Indonesia juga menggelar aksi. Mereka membawa aspirasi terkait kondisi ekonomi masyarakat dan berbagai kebijakan yang dinilai berdampak terhadap kesejahteraan para pekerja sektor transportasi daring.

Konsentrasi massa yang cukup besar membuat aparat keamanan memperketat pengamanan. Polres Metro Jakarta Pusat mengerahkan sekitar 900 personel gabungan untuk memastikan jalannya aksi tetap kondusif dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.

Di lokasi lain, ratusan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga Kwini 8 Bersatu menggelar demonstrasi di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI.

Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana penggusuran lahan yang disebut berkaitan dengan kebutuhan aset Kodam Jaya. Kehadiran massa dalam jumlah besar menyebabkan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan sekitar Jakarta Pusat mengalami kepadatan.

Pihak kepolisian menerapkan rekayasa lalu lintas secara situasional di beberapa titik untuk mengurai kemacetan dan mengantisipasi pergerakan massa.

Aksi serentak yang terjadi di berbagai lokasi tersebut menjadikan Jakarta kembali berada dalam sorotan nasional. Beragam isu yang diangkat massa menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap persoalan hukum, ekonomi, hingga konflik agraria yang hingga kini masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. (*)

Topik Terkait: HeadlineJakarta