Makassar, Katasulsel.com — Belum selesai mengeluhkan listrik padam, lampu kembali mati. Kondisi pemadaman bergilir yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat akhirnya memantik aksi mahasiswa.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menggelar unjuk rasa di depan kantor PLN UID Sulselrabar, Jalan Hertasning, Makassar, Kamis (3/9/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap pemadaman listrik yang dinilai semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

Massa aksi bahkan membakar ban bekas dan membentangkan spanduk dengan tulisan yang menyindir kebijakan pelayanan kelistrikan.

“TAGIHAN TAK PERNAH BERGILIR, TAPI LISTRIK DIPADAMKAN BERGILIR.”

Kalimat itu menjadi sorotan utama dalam aksi. Mahasiswa menilai pelanggan tetap memiliki kewajiban membayar tagihan listrik, sementara pada sisi lain harus berulang kali menghadapi listrik padam.

GAM membawa dua tuntutan utama.

Pertama, mereka mendesak PLN UID Sulselrabar segera menghentikan pemadaman listrik secara bergilir serta memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak.

Kedua, massa meminta General Manager PLN UID Sulselrabar dicopot dari jabatannya.

El Nino Dipersoalkan

Pemadaman bergilir sebelumnya dikaitkan dengan proses perbaikan infrastruktur kelistrikan pada sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).

Kondisi kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño juga disebut berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air.

Penurunan volume air di sumber pembangkit seperti PLTA Bakaru dan Waduk Bili-Bili ikut memengaruhi kapasitas pembangkitan listrik dari sumber tenaga air.

Namun, alasan tersebut dinilai belum cukup untuk menjelaskan persoalan pemadaman bergilir secara keseluruhan.

Jenderal Lapangan GAM, Akmal Yusran, menegaskan kondisi El Niño tidak semestinya dijadikan pembenaran atas pemadaman listrik yang terjadi berulang.

Menurutnya, sistem ketenagalistrikan tidak hanya bertumpu pada pembangkit tenaga air. Masih terdapat berbagai jenis pembangkit lain yang menopang sistem kelistrikan.

“Meskipun terdapat anggapan bahwa kondisi El Nino dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan pasokan listrik, alasan tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan pembenaran atas terjadinya pemadaman listrik secara bergilir,” tegas Akmal.

Bukan Sekadar Soal Lampu Padam

Bagi mahasiswa, persoalan ini bukan semata-mata tentang lampu yang mati.

Pemadaman listrik berulang dapat mengganggu aktivitas rumah tangga, usaha masyarakat, perkantoran hingga kegiatan belajar.

Karena itu, mereka meminta PLN tidak hanya memberikan penjelasan mengenai penyebab gangguan, tetapi juga menghadirkan solusi agar keandalan pasokan listrik segera kembali normal.

Aksi di Jalan Hertasning tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa kesabaran pelanggan memiliki batas.

Sebab bagi masyarakat, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan.

Ketika listrik mati berulang, aktivitas ikut terhenti. Sementara tagihan tetap berjalan.