Sidrap, Katasulsel.com — Rumah panggung yang baru selesai dibangun menjadi tanda dimulainya kehidupan baru bagi pemiliknya. Di Sidrap, momen menempati rumah tersebut dikenal dengan istilah Menre Bola Baru.

Menre Bola Baru berarti menempati rumah baru yang telah selesai dibangun. Tradisi ini masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Bugis di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Bukan hanya pemilik rumah yang hadir dalam momen tersebut. Kerabat hingga tetangga biasanya berdatangan untuk memberikan selamat kepada keluarga yang baru menempati rumah.

Penelitian mengenai Menre Bola Baru di Sidrap mencatat tradisi tersebut sebagai kebiasaan turun-temurun yang dilakukan ketika masyarakat pindah atau mulai menempati rumah baru. Pelaksanaannya menjadi bentuk syukur atas rezeki yang memungkinkan sebuah keluarga membangun rumah.

Rumah Panggung dan Tradisi Menempati Rumah Baru

Menre Bola Baru tidak dapat dilepaskan dari bentuk rumah tradisional Bugis yang banyak dikenal sebagai rumah panggung.

Rumah tersebut berdiri di atas tiang sehingga bagian utama rumah berada di atas permukaan tanah. Untuk memasuki badan rumah, penghuni harus menaiki tangga.

Karena itu, istilah menre yang berarti naik kemudian lekat dengan prosesi memasuki rumah baru tersebut.

Kajian mengenai rumah tradisional Paneng-Paneng di Kabupaten Sidrap menjelaskan Menre Bola Baru sebagai acara syukuran setelah pembangunan rumah selesai. Sanak keluarga dan tetangga diundang untuk merayakan selesainya pembangunan rumah.

Rumah yang sebelumnya masih berupa bangunan yang dikerjakan para tukang kemudian mulai menjadi ruang kehidupan keluarga.

Kerabat dan Tetangga Datang Memberi Selamat

Salah satu bagian yang membuat Menre Bola Baru tidak hanya menjadi urusan pemilik rumah adalah kehadiran orang-orang di sekitarnya.

Ketika acara dilaksanakan, keluarga dekat maupun jauh, kerabat, dan tetangga dapat diundang untuk datang ke rumah baru.

Penelitian khusus mengenai Menre Bola Baru di Sidrap mencatat pemilik rumah mengundang keluarga, kerabat, tetangga, serta tokoh agama, adat, dan masyarakat setempat. Kehadiran mereka berkaitan dengan doa untuk rumah dan penghuninya.

Momen tersebut juga menjadi kesempatan bagi orang-orang di sekitar pemilik rumah untuk memberikan ucapan selamat atas selesainya pembangunan rumah.

Rumah baru pun menjadi tempat berkumpul. Tamu datang, makanan disiapkan, dan keluarga menyambut orang-orang yang hadir.

Pisang Bertandan di Tiang Rumah

Dalam pelaksanaan Menre Bola Baru pada rumah tradisional Paneng-Paneng di Sidrap, sejumlah buah disiapkan sebelum rumah ditempati.

Salah satunya pisang bertandan yang digantung pada tiang-tiang rumah. Buah-buahan lainnya ditempatkan di sekitar posi bola, bagian yang menjadi pusat rumah.

Buah tersebut kemudian menjadi bagian dari suguhan bagi tamu yang datang dalam acara Menre Bola Baru.

Keberadaan pisang bertandan membuat rumah yang baru selesai dibangun memiliki penanda khusus ketika prosesi berlangsung.

Ada Doa dan Jamuan untuk Tamu

Menre Bola Baru juga menjadi bagian dari acara syukuran.

Dalam penelitian mengenai tradisi tersebut di Sidrap, pelaksanaan Menre Bola Baru dikaitkan dengan rasa syukur kepada Allah Swt. atas rezeki yang diberikan kepada pemilik rumah. Tradisi itu juga disertai harapan agar penghuni memperoleh keberkahan, kesehatan, dan keselamatan selama menempati rumah baru.

Kajian rumah tradisional Paneng-Paneng di Sidrap juga mencatat mabarazanji atau pembacaan Barazanji dalam pelaksanaan Menre Bola Baru. Setelah rangkaian tersebut, makanan dapat disajikan kepada keluarga dan tamu yang hadir.

Dengan begitu, rumah baru tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya acara. Rumah tersebut sekaligus menjadi ruang berkumpulnya keluarga dan orang-orang di sekitar pemiliknya.

Tradisi yang Masih Ditemukan di Sidrap

Menre Bola Baru bukan hanya catatan mengenai tradisi rumah Bugis pada masa lalu.

Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Lancirang, Sidrap, menemukan bahwa tradisi tersebut masih dijalankan masyarakat setempat. Penelitian itu melihat Menre Bola Baru sebagai ungkapan syukur sekaligus doa keselamatan dan ketenteraman bagi pemilik rumah.

Sementara penelitian lain yang secara khusus membahas masyarakat Bugis Sidrap di Lalebata juga mencatat Menre Bola Baru sebagai tradisi turun-temurun yang masih dipegang masyarakat.

Di tengah perubahan bentuk dan cara hidup, rumah panggung masih menyimpan satu momen yang mempertemukan pemilik rumah dengan orang-orang di sekitarnya.

Ketika rumah selesai dibangun, pemilik mulai menempatinya. Kerabat dan tetangga datang membawa ucapan selamat, sementara jamuan dan doa menjadi bagian dari acara.

Di Sidrap, momen menempati rumah baru itu dikenal sebagai Menre Bola Baru.