KONAWE SELATAN β Di tengah arus globalisasi yang semakin cepat, kemajuan sebuah daerah tak lagi hanya ditentukan oleh anggaran atau pembangunan fisik. Kemampuan membangun jejaring internasional kini menjadi salah satu kunci penting untuk membuka peluang baru bagi pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Pesan itulah yang mengemuka saat Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan menerima kunjungan delegasi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, yang didampingi civitas akademika Institut Agama Islam Rawa Aopa, Senin (20/7/2026).
Kunjungan yang diterima langsung oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Konawe Selatan tersebut sekilas tampak sebagai agenda silaturahmi biasa. Namun di balik pertemuan itu tersimpan peluang kolaborasi yang jauh lebih luas, mulai dari pengembangan pendidikan hingga penguatan ekonomi masyarakat berbasis komunitas.
Delegasi dari Terengganu, Malaysia, hadir bersama jajaran pimpinan IAI Rawa Aopa dalam upaya menjajaki berbagai bentuk kerja sama strategis antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku pengembangan masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menilai pertemuan tersebut menjadi langkah awal yang penting untuk memperluas ruang kolaborasi internasional yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga mitra internasional dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan.
Belajar dari Malaysia, Menguatkan Potensi Lokal
Salah satu topik menarik yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah pengembangan community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.
Model ini telah berkembang di sejumlah wilayah Malaysia melalui pengelolaan homestay yang melibatkan warga secara langsung sebagai pelaku utama ekonomi lokal.
Konsep tersebut dinilai relevan untuk Konawe Selatan yang memiliki potensi desa, budaya, dan sumber daya alam yang cukup besar namun masih membutuhkan penguatan tata kelola dan kapasitas sumber daya manusia.
Bukan sekadar soal pariwisata, pendekatan ini juga dapat dikombinasikan dengan program pendidikan, pelatihan masyarakat, hingga pengembangan kewirausahaan berbasis desa.
Pendidikan Tak Lagi Terbatas di Ruang Kelas
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para peserta juga membahas penguatan mutu pendidikan daerah melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selama beberapa tahun terakhir, IAI Rawa Aopa dikenal aktif mendorong integrasi antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
Pendekatan tersebut menjadikan desa, pasar rakyat, dan lingkungan sosial sebagai laboratorium pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sekaligus memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat.
Model seperti ini dinilai sejalan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang tidak hanya menghasilkan lulusan akademis, tetapi juga agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitarnya.
Diplomasi Daerah yang Mulai Bergerak
Jika dicermati lebih jauh, kunjungan delegasi Malaysia ini menunjukkan tren yang semakin berkembang di berbagai daerah Indonesia, yakni diplomasi berbasis pendidikan dan masyarakat.
Kerja sama internasional kini tidak lagi didominasi pemerintah pusat. Perguruan tinggi dan pemerintah daerah mulai mengambil peran aktif membangun jejaring global yang berorientasi pada kebutuhan lokal.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Konawe Selatan menyambut positif inisiatif tersebut dan berharap pertemuan itu tidak berhenti pada seremoni atau pertukaran gagasan semata.
Harapannya, kolaborasi ini dapat berkembang menjadi program nyata seperti pertukaran pengetahuan, riset bersama, pengembangan desa wisata, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di Konawe Selatan.
Menjemput Peluang dari Luar Negeri
Bagi Konawe Selatan, kunjungan ini menjadi sinyal bahwa daerah memiliki peluang besar untuk belajar dari pengalaman internasional tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Di era ketika kompetisi pembangunan semakin ketat, kemampuan menjalin kemitraan lintas negara bisa menjadi modal penting untuk mempercepat transformasi pendidikan dan ekonomi masyarakat.
Pertemuan yang ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan pertukaran cenderamata itu memang berlangsung sederhana. Namun dari ruang pertemuan tersebut, terbuka peluang lahirnya kerja sama yang berpotensi membawa manfaat jauh lebih besar bagi masa depan Konawe Selatan.
Karena kadang, kemajuan sebuah daerah tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia bisa berawal dari sebuah silaturahmi yang membuka pintu kolaborasi lintas negara.
