Oleh: Edy Basri
ADA dua jenis orang yang sering saya temui.
Pertama, orang yang setiap hari membaca berita.
Kedua, orang yang setiap hari dibaca Google.
Saya sedang berusaha masuk kelompok kedua.
Tidak mudah.
Google itu keras kepala.
Lebih keras daripada wartawan yang merasa judul buatannya sudah paling bagus.
Lebih keras daripada pejabat yang yakin programnya pasti berhasil.
Lebih keras daripada netizen yang merasa pendapatnya selalu benar.
Google tidak peduli.
Dia hanya melihat fakta.
Kalau bagus, naik.
Kalau tidak bagus, turun.
Sesederhana itu.
Makanya saya selalu bilang, jangan pernah berdebat dengan Google.
Dia tidak akan mendengarkan.
Tujuh hari terakhir saya membaca satu kata.
Sidrap.
Hasilnya membuat saya berpikir cukup lama.
Tayangan 1.770.
Klik 9.
Posisi rata-rata 7,3.
Saya tahu, sebagian orang mungkin langsung bertanya:
“Cuma sembilan klik?”
Nah, di sinilah banyak orang keliru.
Mereka hanya melihat ikan yang berhasil ditangkap.
Padahal saya sedang melihat kolamnya.
Kolamnya mulai ramai.
Kolamnya mulai didatangi.
Kolamnya mulai dikenal.
Dan itu jauh lebih penting.
Sebab dalam dunia digital, tayangan adalah undangan.
Klik adalah tamu yang datang.
Kalau undangannya belum banyak tersebar, bagaimana mungkin rumah menjadi ramai?
Yang membuat saya senang justru angka 1.770 itu.
Google sudah berkali-kali memperlihatkan Katasulsel kepada orang yang mencari Sidrap.
Artinya apa?
Artinya Google mulai percaya.
Belum sepenuhnya.
Tetapi sudah mulai.
Percaya itu mahal.
Baik dalam politik, bisnis, persahabatan maupun media.
Membangunnya lama.
Menghancurkannya hanya perlu beberapa menit.
Google juga begitu.
Dia tidak memberi kepercayaan dalam semalam.
Dia melihat rekam jejak.
Dia membaca kebiasaan.
Dia memperhatikan konsistensi.
Lalu saya teringat momen saat Raker KJI Sulawesi Selatan di Data’e Sidrap kemarin.
Saat itu saya sempat berceloteh soal Google.
Bukan materi resmi.
Bukan pula pembahasan utama.
Hanya selingan.
Tetapi justru sering kali hal-hal penting lahir dari selingan.
Saya mengatakan bahwa hari ini media tidak lagi berhadapan dengan sesama media.
Media berhadapan dengan algoritma.
Kalimat itu saya ucapkan itu di dengar langsung Asisten III Pemkab Sidrap. Saya menyapanya Ka Nas
Ada juga Kepala Kesbangpol, Ka Arsul, dan Sekretaris Dinas Kominfo, Mursalim Halim.
Mereka, termasuk rekan-rekan KJI, semua mendengarnya.
Mungkin ada yang mengangguk.
Mungkin ada yang menganggap saya sedang terlalu jauh berpikir.
Tidak masalah.
Saya memang sering dituduh terlalu serius memikirkan Google.
Padahal yang saya pikirkan bukan Google.
Yang saya pikirkan adalah pembaca.
Karena pembaca hari ini datang dari sana.
Dari kotak pencarian itu.
Dari layar ponsel itu.
Dari kebiasaan baru masyarakat yang setiap kali ingin tahu sesuatu, langsung bertanya kepada Google.
Mau cari dokter, tanya Google.
Mau cari hotel, tanya Google.
Mau cari berita Sidrap, juga tanya Google.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.
Kalau orang mencari Sidrap, apakah Katasulsel muncul?
Kalau belum, berarti kami gagal.
Sesederhana itu.
Saya sering melihat banyak media sibuk mengejar viral.
Seolah-olah viral adalah tujuan akhir.
Padahal tidak.
Viral itu seperti hujan deras.
Ramai.
Membuat orang menoleh.
Tetapi cepat berlalu.
Sedangkan kepercayaan seperti mata air.
Tidak heboh.
Tidak gaduh.
Tetapi terus mengalir.
Saya lebih suka menjadi mata air.
Karena mata air tidak perlu berteriak untuk dicari orang.
Orang akan datang sendiri.
Pelan-pelan saya mulai melihat gejala itu.
Google mulai menoleh ke Sidrap.
Dan ketika dia menoleh, Katasulsel ikut terlihat.
Bagi saya itu sudah cukup menjadi kabar baik.
Karena saya tahu persis perjalanan ini.
Saya tahu berapa ribu berita yang telah diterbitkan.
Saya tahu berapa banyak malam yang dihabiskan editor di depan layar.
Kasihan rekan saya di Jakarta Dinda…
Termasuk Wa Tipue dan Harianto di Sidrap.
Padahal, mereka editor andalan saya.
Saya tahu berapa banyak wartawan yang kehujanan, kepanasan, bahkan kadang dimarahi narasumber.
Semua itu tidak muncul dalam Search Console.
Yang muncul hanya angka.
Padahal di belakang angka itu ada manusia.
Ada kerja keras.
Ada ketekunan.
Ada keyakinan bahwa media lokal tidak boleh kalah hanya karena lahir di daerah.
Justru karena lahir di daerah, media lokal harus menjadi yang paling mengerti daerahnya sendiri.
Maka ketika melihat posisi 7,3 untuk kata Sidrap, saya tidak sedang membaca statistik.
Saya sedang membaca pengakuan kecil dari Google.
Bahwa Katasulsel mulai dianggap layak ikut berbicara tentang Sidrap.
Belum menang.
Belum pula menjadi juara.
Tetapi sudah dipersilakan masuk arena.
Dan percayalah, dalam pertarungan digital hari ini, masuk arena sering kali lebih sulit daripada bertanding di dalamnya.
Karena itu saya tidak akan melawan Google.
Saya akan terus mengajaknya berteman.
Caranya sederhana.
Terus menulis tentang Sidrap.
Terus bercerita tentang masyarakatnya.
Terus menjaga kepercayaan pembaca.
Sisanya, biar Google yang bekerja.
Dia memang keras kepala.
Tetapi kalau sudah percaya, dia juga bisa sangat setia. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
