Oleh: Edy Basri

Ada orang yang ketika wafat, yang hilang hanya namanya dari daftar hadir.

Tetapi ada orang yang ketika wafat, yang terasa hilang adalah cahaya.

Drs. H. Ahyaruddin Hakim, M.A.P., tampaknya termasuk yang kedua.

Sabtu itu, langit Sidrap biasa saja.

Tidak mendung.

Tidak hujan.

Tetapi banyak hati yang terasa berat.

Kabar wafatnya tokoh Muhammadiyah itu menyebar cepat dari grup ke grup. Dari rumah ke rumah. Dari masjid ke masjid.

Orang-orang datang.

Bukan karena kewajiban.

Bukan karena undangan.

Mereka datang karena kehilangan.

Kehilangan seseorang yang selama puluhan tahun menghabiskan hidupnya untuk mendidik orang lain.

Saya selalu percaya, ada profesi yang gajinya dibayar setiap bulan.

Ada pula profesi yang upahnya baru terlihat ketika ia meninggal dunia.

Guru termasuk yang kedua.

Selama hidup, Ahyaruddin Hakim tidak dikenal sebagai orang yang suka mencari sorotan.

Ia lebih sering berada di belakang layar.

Di ruang kuliah.

Di forum pengajian.

Di pertemuan Muhammadiyah.

Di tengah mahasiswa yang membutuhkan arahan.

Di tengah masyarakat yang membutuhkan nasihat.

Hidupnya seperti lilin.

Perlahan habis.

Tetapi menerangi banyak orang.

Sebagai dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, ia tidak sekadar mengajar teori.

Ia mendidik karakter.

Membentuk cara berpikir.

Menanamkan nilai.

Hal yang sering kali lebih sulit daripada mengajar mata kuliah.

Sebagai Ketua BAZNAS Sidrap periode 2018–2023, ia juga tidak hanya mengurus angka dan laporan.

Ia mengurus harapan orang-orang kecil.

Menghubungkan tangan yang mampu dengan tangan yang membutuhkan.

Membuat zakat tidak sekadar kewajiban, tetapi menjadi jalan keberkahan bagi banyak keluarga.

Sebagai kader dan tokoh Muhammadiyah, ia menjalani hidup sebagaimana yang sering diajarkan para pendahulu organisasi itu.

Bekerja banyak.

Bercerita sedikit.

Mengabdi tanpa banyak meminta penghargaan.

Mungkin karena itulah kepergiannya terasa berbeda.

Ia tidak meninggalkan gedung yang menjulang.

Tidak meninggalkan perusahaan besar.

Tidak meninggalkan warisan kemewahan.

Tetapi ia meninggalkan manusia-manusia yang pernah disentuh oleh ilmunya.

Dan warisan seperti itu tidak pernah habis dimakan waktu.

Di antara ribuan pelayat yang hadir, ada satu pemandangan yang membuat banyak orang terdiam.

Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, memilih mengemudikan sendiri ambulans yang membawa jenazah almarhum menuju Pekuburan Muhammadiyah LT Salo, Rappang.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya perjalanan beberapa kilometer.

Bagi yang memahami hubungan mereka, perjalanan itu jauh lebih panjang.

Itu adalah perjalanan seorang murid yang sedang mengantar gurunya.

Untuk terakhir kali.

Saya membayangkan apa yang ada di benak Syaharuddin saat memegang setir ambulans itu.

Mungkin teringat masa-masa ketika masih muda.

Ketika masih belajar berorganisasi.

Ketika masih mencari arah.

Ketika seorang guru bernama Ahyaruddin Hakim membimbing, menasihati, dan mengkader dirinya di Muhammadiyah.

Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang berhasil sendirian.

Di belakang setiap orang yang berhasil, selalu ada guru yang bekerja dalam diam.

Guru yang tidak ikut berdiri di panggung saat muridnya menerima penghargaan.

Guru yang tidak ikut disebut ketika muridnya meraih jabatan.

Tetapi jasanya hidup di setiap langkah muridnya.

Maka ketika Syaharuddin berkata bahwa mengemudikan ambulans itu adalah bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada seorang guru, kalimat itu terasa sangat jujur.

Bukan pidato.

Bukan formalitas.

Tetapi ungkapan hati seorang murid.

Dan hari itu, Sidrap seperti mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

Bahwa penghormatan kepada guru tidak berhenti setelah lulus sekolah.

Tidak berhenti setelah menjadi pejabat.

Tidak berhenti setelah memiliki jabatan dan kekuasaan.

Penghormatan kepada guru berlangsung seumur hidup.

Bahkan sampai di perjalanan terakhirnya.

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat.

Doa-doa dipanjatkan.

Air mata jatuh tanpa suara.

Sementara liang lahat perlahan ditutup tanah.

Di situlah semua manusia akhirnya sama.

Jabatan tidak ikut masuk.

Kekayaan tidak ikut masuk.

Popularitas juga tidak ikut masuk.

Yang ikut hanyalah amal dan kebaikan yang pernah ditanam selama hidup.

Dan jika melihat banyaknya orang yang kehilangan sosok Ahyaruddin Hakim hari itu, tampaknya beliau telah menanam sangat banyak kebaikan.

Mungkin tubuhnya kini telah beristirahat.

Tetapi seorang guru sejati sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tetap hidup dalam ilmu yang diajarkannya.

Dalam nasihat yang pernah diucapkannya.

Dalam kader-kader yang pernah dibinanya.

Dalam mahasiswa yang pernah dibimbingnya.

Dalam masyarakat yang pernah merasakan manfaat pengabdiannya.

Dan mungkin itulah alasan mengapa siang itu begitu mengharukan.

Bukan karena seorang tokoh telah wafat.

Tetapi karena Sidrap sedang mengantar pulang seorang guru.

Guru yang sepanjang hidupnya memilih menjadi penerang bagi orang lain.

Hingga akhirnya, ketika cahayanya padam, ribuan orang menyadari betapa terang sinar yang selama ini ia berikan.

Topik Terkait: Sidrap
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini