Sorong, Katasulsel.com — Tiga hari sudah mama-mama pedagang Papua menunggu. Namun hingga Jumat (3/7/2026), Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, belum juga menemui massa aksi yang sejak awal mendatangi Kantor Gubernur untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Kondisi itu membuat aksi yang semula berlangsung di halaman kantor gubernur berubah menjadi blokade jalan di kawasan Lampu Merah Elim Remu, Kota Sorong.

Bagi para pedagang, perpindahan lokasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan setelah berhari-hari menunggu tanpa kepastian. Mereka mengaku sengaja memilih titik yang ramai dilalui masyarakat agar persoalan yang mereka hadapi tidak lagi luput dari perhatian.

Ironisnya, di tengah gedung pemerintahan yang megah, para mama-mama Papua justru harus bermalam di atas aspal. Terpal dan karpet seadanya menjadi tempat mereka beristirahat setelah seharian menyuarakan tuntutan.

Aksi itu bukan dipicu persoalan politik atau kepentingan kelompok tertentu. Para peserta aksi datang membawa persoalan ekonomi yang mereka hadapi setiap hari sebagai pedagang kecil.

Mereka meminta pemerintah memberikan dukungan modal usaha, menyediakan tempat berjualan yang layak, dan menghadirkan program pemberdayaan ekonomi yang benar-benar dirasakan Orang Asli Papua.

Bagi mereka, keberpihakan terhadap pedagang asli Papua tidak cukup hanya diwujudkan melalui pidato dan program di atas kertas, tetapi harus hadir dalam bentuk kebijakan yang dapat membantu mereka bertahan dan berkembang.

Pendamping aksi dari Perkumpulan Peduli Masyarakat dan Pembangunan Kesejahteraan Sosial (P2MPKS), Yohanis Mambrasar, mengatakan para peserta aksi merasa belum memperoleh ruang dialog yang memadai dari pemerintah provinsi.

Karena itu, mereka memutuskan tetap bertahan sampai ada respons yang jelas dari pihak pemerintah.

Aksi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat Sorong. Mengapa kelompok pedagang yang selama ini menjadi simbol ekonomi rakyat Papua harus menunggu berhari-hari hanya untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah?

Pertanyaan itu kini bergema di jalanan Kota Sorong, bersamaan dengan harapan para mama-mama Papua yang masih bertahan menanti jawaban.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terkait tuntutan massa aksi maupun kemungkinan pertemuan langsung dengan Gubernur Elisa Kambu.

Sementara para pejabat masih belum terlihat di lokasi, mama-mama Papua tetap memilih bertahan. Mereka menunggu bukan sekadar jawaban, tetapi bukti bahwa suara rakyat kecil masih memiliki tempat untuk didengar. (*)