Enrekang, katasulsel.com — Di era ketika satu video bisa menjadi “putusan sementara”, kehati-hatian menjadi barang mahal.

Itulah yang kini terjadi di Kabupaten Enrekang. Sebuah video singkat beredar luas, memperlihatkan seorang pria diduga anggota DPRD berinisial ST di sebuah kafe. Tapi di balik cepatnya arus komentar publik, ada satu hal yang mulai ditekankan: jangan terburu-buru menyimpulkan.

Ketua DPRD Enrekang, Ikrar Eran Batu, memilih posisi yang lebih tenang. Ia mengakui informasi itu sudah sampai ke meja DPRD, namun belum ada klarifikasi langsung dari yang bersangkutan.

Di sinilah titik pentingnya.

Dalam logika hukum maupun etika publik, potongan video bukanlah kesimpulan. Ia hanya bagian kecil dari peristiwa yang belum utuh. Bisa ada konteks yang tidak terekam. Bisa ada situasi yang tidak terlihat.

Karena itu, DPRD meminta ruang yang sama: ruang untuk menjelaskan.

“Belum bisa disimpulkan sebelum ada klarifikasi langsung,” kurang lebih menjadi garis sikap yang diambil.

Di sisi lain, publik memang bergerak cepat. Media sosial tidak menunggu verifikasi panjang. Tapi justru di situlah risiko muncul: persepsi bisa terbentuk lebih dulu daripada fakta.

Kasus seperti ini sering berulang. Satu potongan gambar, satu video pendek, lalu berkembang menjadi opini besar. Padahal, kebenaran sering membutuhkan lebih dari sekadar beberapa detik rekaman.

DPRD Enrekang saat ini memilih pendekatan kehati-hatian: menunggu penjelasan dari ST, memastikan konteks utuh, baru kemudian mengambil sikap resmi jika diperlukan.

Sikap ini bukan untuk menghindari masalah, tetapi untuk memastikan keputusan tidak lahir dari asumsi.

Di tengah derasnya informasi, mungkin inilah yang paling sulit: memberi ruang pada fakta untuk berbicara lebih dulu, sebelum opini mengambil alih panggung (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita