Sidrap, Katasulsel.com — Menghadapi ancaman El Nino yang diperkirakan membuat musim kemarau lebih panjang pada 2026, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mengambil langkah tak biasa: mempercepat masa tanam dan mendorong pertanian berbasis listrik melalui program Electrifying Agriculture.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Sidrap menyebut strategi ini sebagai cara untuk “mendahului cuaca” agar produksi padi tetap aman meski iklim tak lagi bisa ditebak.
Berdasarkan prediksi BMKG, El Nino berpotensi kembali muncul dan berdampak pada sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, dengan risiko kekeringan yang lebih kering dari normal.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana DTPHP Sidrap, Anju Saleh, mengatakan pola tanam tahun ini sengaja digeser lebih cepat dari jadwal biasanya.
“Kalau normalnya MT kedua itu baru jalan sekitar Juni, sekarang kita majukan. Sudah dimulai akhir April sampai Mei,” ujarnya.
Perubahan ini bukan sekadar di atas kertas. Di lapangan, petani ikut menyesuaikan ritme tanam lebih awal setelah mendapatkan pendampingan dan edukasi dari penyuluh pertanian. Hasilnya, sebagian besar lahan sudah lebih dulu ditanami, bahkan kini banyak padi yang memasuki umur sekitar 75 hari dan mulai mengarah ke panen.
Namun strategi Sidrap tidak berhenti pada soal waktu tanam. Pemerintah daerah juga mulai mengandalkan energi listrik sebagai “penjaga air” di sawah.
Melalui program Electrifying Agriculture, pompa-pompa air di lahan pertanian mulai dialihkan menggunakan listrik, menggantikan ketergantungan pada bahan bakar lain. Listrik masuk sawah ini menjadi krusial, terutama saat curah hujan mulai menurun.
“Dengan listrik, petani lebih mudah mengoperasikan pompa air. Jadi suplai air ke sawah tetap jalan meski hujan berkurang,” kata Anju.
Dari sisi kelistrikan, PLN melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Parepare memastikan dukungan penuh terhadap kebutuhan sektor pertanian di Sidrap.
Manager UP3 Parepare, Muh Akbar, menyebut program ini sudah mulai familiar di kalangan petani.
“Kami terus mengawal Electrifying Agriculture ini. Ini bagian dari dukungan untuk ketahanan pangan dan swasembada,” ujarnya.
Dengan percepatan tanam dan masuknya listrik ke sawah, Sidrap kini seperti sedang “balapan” dengan perubahan iklim—mencoba memastikan satu hal tetap aman: padi tetap tumbuh, meski cuaca makin sulit ditebak.(*)
