Sidrap, katasulsel.com – Di Sidrap lagi ada suasana yang bisa dibilang campur aduk: deg-degan iya, tapi juga penuh harapan. Bukan karena hal lain, tapi karena dua sepupu ini lagi siap masuk “zona tempur halus” bernama Audisi D’Academy 8 (DA 8).
Kenalin, Nhiken Anjhany, siswi SMA Negeri 2 Sidenreng Rappang, dan sepupunya Armayani alias Maya.
Dua nama ini lagi jadi bahan obrolan hangat, bukan karena sensasi, tapi karena mereka lagi bawa mimpi yang sama: tembus panggung nasional lewat jalur dangdut.
Di Sidrap, mereka bukan cuma latihan nyanyi. Lebih dari itu, mereka lagi ditempa di fase yang orang panggung sering sebut “zona deg-degan tapi tetap harus kalem”.
Soalnya di DA, suara bagus itu baru modal awal. Yang bikin beda itu feeling, karakter, dan mental saat lampu sorot sudah nyala.
Bahasa sederhananya: di kamar bisa merdu, tapi di panggung bisa beda cerita.
Menariknya, dua sepupu ini justru jalan bareng di titik yang sama.
Ada kemungkinan mereka sama-sama melaju, tapi juga ada kemungkinan hanya satu yang lanjut lebih jauh. Tapi di situlah uniknya DA—kompetisi, tapi tetap ada rasa bangga di dalam keluarga.
Orang-orang yang pernah ikut audisi bilang, momen paling krusial itu bukan saat nyanyi, tapi saat nunggu juri ngomong. Detik-detik itu sering disebut “zona hening paling menegangkan”—karena dalam beberapa detik, nasib bisa berubah total.
Nah, Nhiken dan Maya sekarang lagi di fase persiapan yang serius tapi tetap penuh semangat. Mereka bukan cuma latihan nada tinggi atau cengkok dangdut, tapi juga lagi nguatkan mental biar nggak goyah saat berdiri di depan juri.
DA 8 sendiri sudah lama dikenal sebagai “jalur cepat lahirnya bintang”. Banyak yang awalnya cuma latihan di rumah, tiba-tiba bisa muncul di layar nasional. Tapi semua itu lewat satu pintu yang sama: audisi yang ketat dan nggak bisa ditawar.
Di Sidrap, cerita dua sepupu ini sekarang jadi semacam simbol kecil dari mimpi besar. Bukan soal siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling siap saat kesempatan datang.
Karena di dunia DA, yang sering bikin beda bukan cuma suara… tapi keberanian untuk tetap tenang saat semua orang lagi deg-degan.
Dan di titik itu, Nhiken dan Maya bukan lagi sekadar peserta. Mereka adalah dua harapan kecil dari Sidrap yang lagi berlari ke satu arah yang sama: panggung impian.(*)
