SOPPENG, Katasulsel.com – Ada kisah yang membuat suasana pelepasan jemaah haji di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (22/4/2026) dini hari, terasa lebih hangat dari biasanya. Di antara ratusan calon jemaah, terselip satu nama yang menjadi pusat perhatian: Lamakka Lamaulu (73), petani asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, yang akhirnya berangkat haji setelah 16 tahun menunggu.
Bagi Lamakka, momen itu bukan sekadar keberangkatan. Itu adalah titik temu antara doa yang panjang dan waktu yang akhirnya menjawab.
Ia tergabung dalam Kloter 1 Embarkasi Makassar, mengenakan seragam biru khas jemaah, berdiri tenang meski usianya sudah sepuh. Menariknya, di antara sebagian jemaah lansia yang harus dibantu kursi roda, Lamakka masih tampak kuat melangkah sendiri.
“Alhamdulillah, setelah dapat nomor porsi tahun 2010, akhirnya bisa berangkat juga,” ucapnya singkat, namun sarat makna.
Perjalanan panjang itu tidak datang tanpa pengorbanan. Warga Desa Salotoraja, Kecamatan Lalabata ini hidup sebagai petani sederhana. Demi mewujudkan impian ke Tanah Suci, ia bahkan rela menjual tiga ekor sapi—aset yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga.
Dua anak perempuannya menjadi saksi bagaimana keputusan itu diambil dengan penuh keyakinan, bukan paksaan.
Namun yang membuat kisah ini semakin menyentuh, bukan hanya perjuangan Lamakka, tetapi juga reaksi warga sekitar yang ikut melepas keberangkatannya.
Salah seorang tetangga, Rahmawati (45), tak kuasa menahan haru saat melihat Lamakka berangkat.
“Beliau orangnya sangat sabar. Dari dulu memang sudah niat haji, jadi semua warga di sini ikut bahagia. Rasanya seperti keluarga sendiri yang berangkat,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Warga lainnya, Amiruddin (52), juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, Lamakka dikenal sebagai sosok sederhana yang tidak pernah mengeluh meski harus menunggu bertahun-tahun.
“Tidak pernah kami lihat beliau putus asa. Justru kami yang sering diajak sabar,” katanya.
Kini, langkah Lamakka bukan lagi di pematang sawah, tetapi menuju Tanah Suci—membawa harapan, doa, dan cerita panjang tentang kesabaran yang tidak sia-sia.
Di balik keberangkatannya, tersimpan satu pesan yang diam-diam dirasakan warga Soppeng: bahwa mimpi yang dijaga dengan sabar, pada akhirnya selalu menemukan jalan pulang. (*)
