Mempawah, katasulsel.com — Pemerintah Kabupaten Mempawah bergerak cepat menelusuri penyebab kematian massal ikan keramba apung yang terjadi di aliran Sungai Mempawah. Peristiwa ini sebelumnya membuat heboh warga karena ribuan ikan mendadak mati dan mengapung, menimbulkan bau menyengat serta kerugian besar bagi pembudidaya.

Untuk memastikan penyebabnya secara ilmiah, pemerintah daerah menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Barat serta Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalbar. Tim gabungan turun langsung ke lokasi keramba apung di Jalan Gusti M. Taufik, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir, Jumat (12/6/2026) sore.

Di lokasi, suasana tampak serius. Para pembudidaya yang terdampak terlihat berdialog dengan tim gabungan sambil menunjukkan kondisi keramba yang kehilangan sebagian besar ikan peliharaan mereka dalam waktu singkat.

Petugas kemudian melakukan verifikasi lapangan, pengumpulan data, hingga pengambilan sampel air sungai serta jaringan ikan yang mati. Semua sampel tersebut kini dibawa ke laboratorium untuk diuji lebih lanjut.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Mempawah, Arifin, menegaskan bahwa hasil uji laboratorium akan menjadi kunci utama untuk mengungkap penyebab pasti kejadian ini.

“Sampel air dan ikan sudah diambil untuk diuji di laboratorium. Dari hasil itu nanti akan terlihat penyebab pastinya, apakah karena perubahan kualitas air, faktor alam, atau hal lain yang memengaruhi ekosistem sungai,” ujarnya.

Arifin juga meminta masyarakat dan pembudidaya untuk tetap tenang serta tidak berspekulasi sebelum hasil resmi keluar. Menurutnya, seluruh kemungkinan masih terbuka dan harus diuji secara ilmiah.

“Kami tidak ingin menduga-duga. Semua harus berdasarkan hasil laboratorium agar jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Di tengah berbagai dugaan yang berkembang di masyarakat, pemerintah menyebut bahwa kematian ikan dalam jumlah besar secara mendadak menjadi sinyal adanya gangguan serius pada kualitas perairan Sungai Mempawah.

Karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium tidak hanya akan menentukan penyebab kematian ikan, tetapi juga menjadi dasar evaluasi kondisi lingkungan sungai secara menyeluruh.

Langkah cepat penanganan ini juga melibatkan sejumlah pihak, termasuk anggota DPRD Mempawah serta instansi teknis terkait lainnya. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam merespons dampak ekonomi dan lingkungan yang ditimbulkan.

Sambil menunggu hasil uji laboratorium, pemerintah berharap proses investigasi ini dapat segera memberikan kepastian, sehingga langkah penanganan, pemulihan, dan perlindungan bagi para pembudidaya ikan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Dari Sungai Mempawah yang kini menjadi perhatian, satu hal yang ditekankan pemerintah adalah pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan, karena di sanalah kehidupan ekonomi masyarakat pesisir dan sungai banyak bergantung. (*)