Jakarta, Katasulsel.com β Bentrokan antarwarga di Jalan Matraman Dalam, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), tidak hanya menelan korban jiwa dan memicu pengamanan aparat hingga dini hari. Di balik peristiwa itu, para pedagang kecil di kawasan Bazar Kuliner Bazis (BKB) Matraman menjadi kelompok yang ikut menanggung dampaknya setelah pembeli memilih menjauh karena khawatir bentrokan kembali terjadi.
Ketakutan akan potensi bentrokan susulan membuat aktivitas masyarakat di sekitar lokasi menurun. Kawasan kuliner yang biasanya ramai mendadak lengang. Sejumlah pedagang memilih menutup lapaknya lebih awal, sementara sebagian lainnya memutuskan tidak berjualan pada keesokan harinya demi menjaga keselamatan.
Salah seorang pedagang ayam bakar di Bazar Kuliner Bazis (BKB) Matraman yang menggunakan nama samaran Arif (48) mengaku situasi mencekam pada malam bentrokan membuat para pembeli berhamburan meninggalkan lokasi.
“Tadi malem pas ada rame-rame, pembeli pada kabur, Mas. Pada takut buat beli makan dimari,” ujar Arif kepada penulis.
Berdasarkan keterangan resmi Polda Metro Jaya, bentrokan bermula sekitar pukul 10.00 WIB ketika dua orang datang menggunakan sepeda motor berknalpot brong untuk membeli bubur di sekitar lokasi kejadian.
Setelah selesai membeli bubur, keduanya menggeber sepeda motor hingga menimbulkan suara bising yang mengganggu warga yang sedang beraktivitas, termasuk sejumlah warga yang tengah sarapan di sebuah warung nasi uduk.
Merasa terganggu, sejumlah warga kemudian menegur kedua pengendara tersebut. Namun, teguran itu tidak diterima dengan baik sehingga memicu adu mulut. Setelah cekcok berlangsung, kedua orang tersebut meninggalkan lokasi.
Situasi berubah dalam waktu singkat. Tidak lama berselang, keduanya kembali bersama sekitar lima rekannya sehingga jumlah kelompok tersebut menjadi sekitar tujuh orang. Setibanya di lokasi, mereka diduga melakukan perusakan terhadap gerobak milik pedagang di sekitar tempat kejadian.
Aksi tersebut memicu kemarahan warga hingga bentrokan tidak lagi dapat dihindari. Peristiwa itu mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Meningkatnya ketegangan membuat aparat gabungan Polri dan TNI segera memperketat pengamanan di kawasan Jalan Tambak dan Matraman Dalam guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan susulan.
Dalam operasi pengamanan tersebut, kepolisian mengamankan sejumlah senjata tajam, busur, dan anak panah yang diduga akan digunakan dalam aksi kekerasan lanjutan. Patroli juga dilakukan secara intensif di sejumlah titik untuk memastikan situasi tetap kondusif.
Berdasarkan pantauan penulis di lapangan, aparat keamanan masih berjaga hingga dini hari. Personel kepolisian terus melakukan patroli, membubarkan kelompok warga yang masih berkumpul, serta mengantisipasi kemungkinan munculnya bentrokan kembali.
Dampak bentrokan tidak berhenti pada hari kejadian. Hingga Senin (27/7/2026), sejumlah pedagang memilih tidak membuka lapaknya karena khawatir konflik kembali terjadi. Akibatnya, aktivitas ekonomi di kawasan kuliner tersebut menurun dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Bagi masyarakat sekitar, bentrokan itu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga rasa cemas. Kekhawatiran akan munculnya aksi susulan membuat sebagian warga membatasi aktivitasnya, terutama pada malam hari.
Peristiwa di Matraman Dalam menunjukkan bahwa dampak konflik sosial tidak hanya dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat secara langsung. Warga yang tidak memiliki keterkaitan dengan bentrokan turut menanggung akibatnya, mulai dari hilangnya rasa aman, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga menurunnya pendapatan para pelaku usaha kecil.
Respons cepat aparat gabungan Polri dan TNI menjadi langkah penting dalam mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Pengamanan yang dilakukan sejak bentrokan terjadi hingga dini hari merupakan upaya untuk menjaga situasi tetap kondusif sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Bentrokan di Matraman Dalam menjadi pengingat bahwa perselisihan yang berawal dari persoalan sederhana dapat berkembang menjadi konflik dengan dampak yang jauh lebih besar. Ketika rasa aman masyarakat terganggu, kerugian tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat dalam bentrokan, tetapi juga oleh warga yang ingin menjalankan aktivitas seperti biasa dan para pedagang yang menggantungkan penghasilannya dari ramainya pengunjung. Karena itu, penanganan yang cepat, terukur, serta dukungan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci untuk mencegah konflik berkembang sekaligus memulihkan kehidupan sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar.(*)
Penulis: Nabil Pratama Nusantara | Mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
