Manado, Katasulsel.com β Regenerasi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu pembahasan utama dalam Rembug Nahdliyin Muda bertajuk “Refleksi Nilai Toleransi dalam Bingkai Nahdliyin Kawanua” yang diselenggarakan oleh Kita Muda Nahdliyin Sulawesi Utara di Cafe Mr. A, Manado, Senin (27/7). Dalam dinamika forum tersebut, nama KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengemuka sebagai salah satu figur yang dinilai sejumlah peserta memiliki kapasitas memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang.
Forum yang diikuti 15 peserta itu menghadirkan akademisi yang berfokus pada isu moderasi beragama, Mohammad Rizky Yahya, sebagai pemateri. Diskusi dipandu Nabilla Ardianti, sementara pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Isra Syahrain.
Dalam pemaparannya, Mohammad Rizky Yahya menekankan bahwa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga kehidupan kebangsaan yang harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Toleransi, menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai hubungan yang baik antarumat beragama, tetapi juga harus tercermin dalam kepemimpinan yang mampu merangkul perbedaan, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Diskusi kemudian berkembang pada pembahasan mengenai regenerasi kepemimpinan NU sebagai salah satu tantangan strategis organisasi di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman. Peserta berpandangan bahwa regenerasi tidak semata dipahami sebagai pergantian figur, melainkan proses menjaga kesinambungan tradisi keilmuan, memperkuat kaderisasi, membangun budaya musyawarah, serta memastikan khidmah Nahdlatul Ulama tetap berjalan dalam menjawab kebutuhan umat.
Dalam pembahasan mengenai figur kepemimpinan PBNU, sejumlah nama turut menjadi bagian dari dinamika forum. Dari berbagai pandangan yang berkembang, nama KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menjadi salah satu yang paling banyak mengemuka dalam diskusi.
Peserta menilai Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, tersebut memiliki rekam jejak yang kuat dalam tradisi pesantren serta komitmen menjaga nilai-nilai keulamaan. Perhatiannya terhadap penguatan kaderisasi, budaya musyawarah, dan kemampuannya membangun komunikasi lintas generasi dipandang menjadi karakter kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan NU dalam menghadapi tantangan organisasi pada masa mendatang.
Forum juga menegaskan bahwa menjaga warisan para masyayikh tidak bertentangan dengan upaya melakukan pembaruan organisasi. Tradisi dipandang sebagai fondasi utama, sedangkan inovasi merupakan ikhtiar agar Nahdlatul Ulama tetap mampu menjawab perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas, nilai, dan khidmahnya kepada umat.
Selain membahas regenerasi kepemimpinan, peserta menekankan pentingnya menguatkan nilai-nilai tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal sebagai karakter utama Nahdliyin dalam merawat harmoni kehidupan bermasyarakat. Pengalaman masyarakat Sulawesi Utara yang hidup berdampingan dalam keberagaman dinilai menjadi contoh nyata praktik toleransi yang tumbuh melalui budaya dialog, gotong royong, dan saling menghormati.
Koordinator Acara Rembug Nahdliyin Muda, Isra Syahrain, mengatakan forum tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama sekaligus memperkokoh kehidupan kebangsaan.
“Kami berkomitmen untuk menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, mendukung proses regenerasi kepemimpinan NU melalui pembinaan kader yang berintegritas dan berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah, serta melaksanakan dan mengawal hasil forum sebagai pedoman dalam memperkuat organisasi dan mewujudkan tujuan bersama,” ujar Isra.
Rembug Nahdliyin Muda ditutup dengan harapan agar proses regenerasi kepemimpinan NU mampu melahirkan pemimpin yang menjaga khidmah kepada umat, memperkuat persatuan, serta mengembangkan organisasi yang adaptif tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Melalui forum tersebut, semangat toleransi dalam bingkai Nahdliyin Kawanua diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengawal masa depan NU sekaligus memperkuat kontribusinya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia.(*)
