Sidikalang, katasulsel.com — Suasana tenang sore di Kelurahan Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berubah seketika menjadi kepanikan massal pada Jumat (12/6/2026). Langit yang awalnya cerah mendadak menggelap, lalu dalam hitungan menit berubah menjadi ancaman dari langit: angin kencang, hujan deras, dan butiran es yang turun bersamaan.
Warga yang sedang beraktivitas di dalam dan sekitar rumah tak sempat banyak bersiap. Suara gemuruh angin disusul dentuman keras dari atap rumah yang mulai terangkat satu per satu membuat suasana berubah mencekam.
“Awalnya cuma mendung biasa, tidak lama langsung gelap sekali. Tiba-tiba angin datang kencang sekali, atap rumah langsung terangkat,” ujar salah seorang warga yang masih terlihat trauma.
Dalam peristiwa singkat namun brutal itu, sedikitnya 13 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan. Mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap yang beterbangan terbawa hembusan angin.
Camat Sidikalang, Mawardy Sastrawan Tumanggor, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut laporan sementara menunjukkan puluhan warga terdampak akibat terjangan angin kencang yang datang tiba-tiba.
“Laporan sementara, 13 unit rumah rusak di Kelurahan Sidiangkat. Umumnya kerusakan pada atap yang terbang. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” kata Mawardy.
Situasi semakin kacau ketika pohon-pohon besar ikut tumbang, bahkan tiang listrik di kawasan Kuta Rih juga roboh diterjang angin. Kondisi ini membuat sejumlah titik permukiman langsung gelap karena aliran listrik terputus.
Di beberapa lokasi, warga terlihat berlarian keluar rumah mencari tempat aman, sementara sebagian lainnya berusaha menyelamatkan barang-barang seadanya di tengah hujan deras yang masih turun.
“Pohon besar dan tiang listrik tumbang. Permukiman jadi gelap,” lanjut Mawardy.
Tak hanya di Sidiangkat, laporan sementara juga menyebutkan dampak cuaca ekstrem ini merambat ke wilayah Kelurahan Kuta Gambir, meski data kerusakan masih dalam pendataan petugas.
Usai kejadian, aparat kelurahan bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan warga langsung turun tangan melakukan pembersihan. Batang pohon yang melintang di jalan dipotong menggunakan gergaji mesin agar akses kembali terbuka.
Hingga malam, warga masih terlihat berjaga di sekitar rumah mereka, khawatir akan adanya cuaca susulan, sementara sebagian lainnya mulai memperbaiki atap yang tersisa dengan bahan seadanya. (*)
