Jakarta, Katasulsel.com – Ada pemandangan berbeda di kantor Kementerian Pertanian. Bukan sekadar rapat rutin yang dingin dan formal. Kali ini, sekitar 170 bupati dari berbagai daerah di Indonesia datang langsung menemui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menariknya, tak satu pun diwakili. Semua hadir sendiri. Bahasa politiknya sederhana: urusan pangan sedang tidak bisa didelegasikan.

Di tengah lautan kepala daerah itu, dua nama dari Sulawesi Selatan ikut mencuri perhatian: Bupati Wajo Andi Rosman dan Bupati Pinrang Andi Irwan Hamid. Kehadiran keduanya menjadi sinyal bahwa daerah-daerah lumbung pangan di Sulsel tidak ingin hanya jadi penonton di tribun, tetapi pemain utama di lapangan hijau ketahanan pangan nasional.

Mentan Amran sendiri menyebut para bupati yang hadir adalah daerah-daerah penyangga pangan nasional. Karena itu, kehadiran langsung para kepala daerah dianggap penting untuk menyamakan irama menghadapi tantangan besar: perubahan iklim, ancaman kemarau, dan kebutuhan peningkatan produksi.

Bagi Wajo, kehadiran Andi Rosman bukan tanpa alasan. Kabupaten ini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian Sulsel, terutama padi dan sektor irigasi sawah. Saat pusat memanggil, Wajo datang membawa reputasi sebagai daerah yang paham denyut nadi sawah.

Sementara Pinrang lewat Andi Irwan Hamid juga tampil dengan bobot tersendiri. Pinrang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong beras Sulawesi Selatan. Dalam peta pangan nasional, Pinrang bukan pemain figuran. Ia aktor lama yang tetap relevan.

Rapat itu juga membahas program besar pemerintah untuk penguatan sektor perkebunan dan pertanian. Nilainya tak kecil. Menteri Pertanian menyampaikan adanya dukungan hibah hampir Rp10 triliun untuk berbagai komoditas seperti tebu, kopi, kakao, kelapa, hingga pala. Target lainnya adalah pengembangan lahan ratusan ribu hektare di berbagai daerah.

Di sinilah pentingnya kehadiran bupati secara langsung. Sebab bantuan besar tanpa kepala daerah yang sigap hanya akan jadi angka di kertas. Tapi bila daerah siap, anggaran bisa berubah menjadi sawah produktif, kebun tumbuh, dan petani tersenyum.

Kehadiran Andi Rosman dan Andi Irwan Hamid juga mengirim pesan politik pembangunan: Sulawesi Selatan masih ingin berdiri di barisan depan urusan pangan nasional. Saat daerah lain mungkin mengirim staf, mereka datang sendiri.

Dalam dunia sepak bola, ini seperti kapten tim turun langsung saat laga final. Tak cukup kirim asisten pelatih. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar jadwal rapat, melainkan masa depan pangan Indonesia.

Mengawal akurasi dan kedalaman berita