Sidrap, Katasulsel.com — Ada perjalanan yang tidak diukur dengan cepat atau lambatnya langkah, tetapi dengan keteguhan yang bertahan hampir setengah abad.

Namanya Ladalle Abdullah (61), jamaah calon haji asal Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Tahun ini, ia akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci setelah 46 tahun irit dan menabung dari hasil kerja sebagai sopir truk pengangkut gabah.

Di tengah kerasnya hidup sebagai pekerja lapangan, Ladalle tidak pernah benar-benar memadamkan satu harapan yang ia jaga sejak muda: bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

“Saya menabung sejak tahun 1980,” katanya pelan, mengingat perjalanan panjang yang ia lalui.

Penghasilannya dulu tidak besar. Kadang hanya seribu hingga dua ribu rupiah per hari. Namun dari angka kecil itu, ia membangun niat besar yang tidak pernah berubah.

“Saya kumpulkan sedikit-sedikit. Yang penting niatnya tidak putus,” ujarnya.

Tahun 2011 ia akhirnya mendaftar haji setelah tabungannya dirasa cukup untuk biaya awal. Sejak saat itu, perjalanan berikutnya adalah menunggu—sebuah proses panjang selama 15 tahun yang ia jalani dengan sabar.

Kini, penantian itu berakhir. Ladalle resmi tergabung dalam Kloter 2 Embarkasi Makassar menuju Tanah Suci.

Ia berangkat tanpa didampingi keluarga. Sederhana, tenang, namun penuh rasa haru.

“Saya berangkat sendiri. Istri sudah lebih dulu berangkat,” ucapnya singkat.

Kisah Ladalle menjadi potret nyata bahwa perjalanan menuju Baitullah bukan hanya soal kemampuan finansial, tetapi juga tentang kesabaran panjang yang tidak semua orang mampu menjalaninya.

Di balik setiap rupiah yang ia sisihkan selama 46 tahun, tersimpan doa yang tidak pernah berhenti—hingga akhirnya terjawab di tahun ini. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita