Pinrang, Katasulsel.com — Konflik tanah di Maccorowalie, Pinrang, bukan cerita baru. Tapi kali ini, situasinya terasa berbeda. Lebih panas. Lebih tegang.

Sengketa demi sengketa terus muncul. Warga mulai lelah. Kepastian hukum terasa jauh.

Di titik itu, polisi akhirnya turun lebih dalam.

Kapolres Pinrang, AKBP Edy Sabhara Mangga Barani, membentuk Satuan Tugas khusus. Targetnya jelas: membongkar praktik mafia tanah yang diduga bermain di wilayah tersebut.

“Ini bukan lagi kasus biasa. Kami akan tuntaskan,” tegasnya.

Langkah ini menjadi penanda: kasus tanah di Maccorowalie masuk babak baru.

Sebab, sebagian perkara sudah berjalan di pengadilan. Ada yang masih di tingkat pertama, ada pula yang sudah naik banding di Pengadilan Tinggi Makassar.

Artinya, konflik ini bukan sekadar klaim sepihak. Tapi sudah masuk pertarungan hukum yang serius.

Satgas kini bekerja di dua arah. Di lapangan dan di balik dokumen.

Mereka akan menelusuri siapa yang bermain, bagaimana pola sengketa muncul, dan apakah ada aktor yang sengaja mengatur konflik.

Di tengah itu, harapan warga perlahan muncul—meski belum sepenuhnya percaya.

Salah satu warga, Bill Gates, menyuarakan keresahan yang selama ini dipendam.

“Kami hanya mau kejelasan. Jangan terus-terusan begini,” katanya.

Kapolres pun membuka pintu selebar-lebarnya.

Siapa pun yang punya bukti, diminta bicara. Polisi menjamin perlindungan.

“Identitas aman. Jangan takut,” ujar Edy.

Namun persoalannya tidak sesederhana itu.

Di balik konflik tanah, selalu ada kepentingan. Ada nilai ekonomi. Ada jaringan.

Dan di situlah ujian sebenarnya dimulai.

Satgas sudah dibentuk.

Sekarang pertanyaannya tinggal satu:

Seberapa jauh berani membongkar sampai ke akar. (*)

Gambar berita Katasulsel