Meski demikian, besarnya dukungan elektoral pada kontestasi sebelumnya di Sulawesi Selatan memberi ruang optimisme tersendiri. Dalam kalkulasi politik, modal suara tersebut dapat menjadi basis awal, namun tetap memerlukan kerja struktural agar tidak berhenti sebagai statistik historis.

Rangkaian kegiatan yang ditutup dengan doa bersama dan simbol syukur mencerminkan pendekatan kultural yang ingin dirawat oleh partai ini. Namun dalam politik elektoral, simbol hanya akan bermakna jika diikuti oleh strategi rekrutmen, kaderisasi, dan konsolidasi kebijakan yang terukur.

Makassar, dengan segala kompleksitas sosial-politiknya, kini menjadi salah satu medan uji apakah Partai Gerakan Rakyat mampu bertransformasi dari gerakan moral menjadi entitas politik yang kompetitif dan institusional. Waktu akan menjadi penguji paling objektif. (*)