Pangkep, katasulsel.com — Ada yang sering dilupakan dari kata “hilang”.

Ia tidak selalu berarti tersesat jauh.
Kadang, hanya terlambat pulang—tapi cukup untuk membuat satu kampung gelisah.

Itulah yang terjadi di Balocci, Pangkep.

Lima remaja. Masih usia SMP.

Mereka masuk hutan di kawasan Balleangin, Jumat siang, tak lama setelah salat Jumat. Tujuannya sederhana: mencari porang.

Tanaman yang belakangan jadi “emas baru” di kampung-kampung.

Nilainya naik. Peminatnya banyak.
Dan bagi anak-anak seusia mereka, ini seperti petualangan—yang juga menjanjikan hasil.

Masalahnya, hutan tidak pernah sesederhana itu.

Apalagi di Balocci.

Advertisement

Kawasan karst, tebing batu, jalur yang tidak semua orang hafal. Siang bisa terlihat ramah. Tapi menjelang sore, semuanya berubah.

Arah bisa menipu.
Jarak terasa lebih panjang.
Dan yang paling berbahaya: rasa yakin bahwa “jalan pulang masih dekat”.

Sore itu, mereka tidak kembali.

Keluarga mulai bertanya.
Warga mulai bergerak.

Pencarian dilakukan, tapi hutan sudah lebih dulu gelap.

Dan di situlah kecemasan mulai tumbuh.

Malam di kampung terasa lebih panjang dari biasanya.

Tidak ada kabar. Tidak ada jejak.

Hanya dugaan: mungkin tersesat. Mungkin kelelahan. Atau mungkin memilih bertahan di satu titik menunggu pagi.

Advertisement

Kabar baik itu akhirnya datang, Sabtu.

Kelima remaja ditemukan. Selamat.

Tidak ada drama besar. Tidak ada tragedi. Tapi ada pelajaran.

Sekretaris BPBD Pangkep, Muh Arsyad, menjelaskan mereka memang masuk hutan untuk mencari porang.

Aktivitas yang kini makin sering dilakukan warga.

Masuk hutan, mencari umbi, pulang dengan harapan ada tambahan penghasilan.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.