Makassar, katasulsel.com — Kemenangan nyaris aklamasi Prof Dr Jamaluddin Jompa MSc dalam Pemilihan Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) periode 2026–2030 tidak hanya merekam dinamika internal kampus, tetapi juga menarik dibaca dari perspektif jurnalisme kebijakan pendidikan tinggi.

Bagi dunia pers, proses demokrasi di kampus kerap menjadi indikator penting bagi kesehatan tata kelola institusi publik.

Dalam konteks ini, kemenangan Prof JJ yang berlangsung mulus justru mencerminkan absennya konflik struktural dan minimnya resistensi kebijakan selama masa kepemimpinan sebelumnya.

Ketua Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) Sulawesi Selatan, Edy Basri, menilai hasil Pilrek Unhas kali ini memperlihatkan pola kepemimpinan yang telah memperoleh kepercayaan lintas elemen.

“Dalam kacamata jurnalis, kemenangan yang mulus biasanya bukan karena tidak ada kompetitor, tetapi karena petahana berhasil membangun legitimasi. Unhas di bawah Prof Jamaluddin Jompa relatif stabil, minim gejolak, dan arah kebijakannya jelas,” ujar Edy Basri, Rabu (13/1/2026).

Menurut Edy, stabilitas institusional merupakan variabel penting yang jarang terlihat secara kasat mata, tetapi sangat dirasakan oleh sivitas akademika maupun publik luas.

Ketika sebuah perguruan tinggi besar seperti Unhas tidak dihantui polemik berkepanjangan, maka itu mencerminkan kepemimpinan yang inklusif dan komunikatif.

Sebagai Pemimpin Redaksi Katasulsel.com, Edy juga menyoroti konsistensi Unhas dalam menjaga perannya sebagai agen pembangunan kawasan timur Indonesia, terutama melalui penguatan riset dan pengabdian masyarakat.

“Unhas bukan hanya kampus, tapi simpul pengetahuan untuk Sulsel dan Indonesia Timur. Prof JJ berhasil menjaga posisi itu. Dari sudut pandang media, keberlanjutan kebijakan seperti ini membuat publik mudah membaca arah institusi,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam dinamika pemilihan pejabat publik—termasuk di kampus—media biasanya mencermati adanya friksi, polarisasi, atau resistensi terbuka. Namun, Pilrek Unhas 2026–2030 justru menunjukkan sebaliknya.

“Hampir tidak ada turbulensi. Itu menandakan proses konsolidasi internal berjalan baik. Ini yang membuat jalannya mulus,” kata Edy.

Lebih jauh, Edy Basri menilai tantangan ke depan bagi Prof Jamaluddin Jompa bukan lagi soal legitimasi, melainkan penguatan dampak (impact-oriented leadership).

Publik akan menunggu bagaimana Unhas memperluas kontribusi risetnya pada isu strategis seperti pangan, kelautan, kesehatan, dan transformasi digital.

Bersambung….

“Pers akan tetap kritis. Tapi dari sisi awal periode kedua ini, Prof JJ memulai dengan modal kepercayaan yang sangat kuat,” pungkasnya.

Dengan kemenangan yang berlangsung mulus, Prof Jamaluddin Jompa kini memasuki periode kedua bukan sebagai pemimpin yang diuji oleh kontestasi, melainkan oleh ekspektasi.

Dan bagi media, fase ini justru menjadi ruang penting untuk mengawal akuntabilitas sekaligus memastikan kampus tetap menjadi rumah intelektual yang berpihak pada kepentingan publik. (*)